Jumat, 30 April 2010

Filosofi Punk – Anarkisme

Apa itu Anarkisme serta hubungannya dengan Punk diseluruh penjuru dunia. Kegagalan para politisi dalam “politik jual – beli” meyakinkan sebuah kontra kultur akan ide bahwa kita semua akan jauh lebih baik hidup tanpa vampir-vampir ini. “Semua pemerintahan tidaklah diinginkan dan tidak perlu, tidak ada pelayanan yang dapat disediakan pemerintahan yang tidak dapat disediakan oleh suatu komunitas secara swadaya. Kita tidak perlu disuruh – suruh melakukan sesuatu atau diberitahu bagaimana menghidupi hidup kita apalagi dibebani oleh pajak, aturan, regulasi – regulasi serta tuntutan – tuntutan akan hasil kerja kita” (Profane Existence(PE) #5,Agustus 1990 hal 38,Ayf)

Ketika harus memilih diantara ideologi politik : Punk cenderung Anarkis. Hal ini tidak mengesampingkan fakta masih ada punk yang tidak membaca sejarah dan terus mempromosikan tetap berlanjutnya bentuk-bentuk kapitalisme atau komunisme berjalan dimuka bumi ini. Tetapi dapat dikatakan hampir semua Punk percaya akan prinsip Anarkis untuk sama sekali tidak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur serta menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu (siapa yang tidak). Profane Existence(berikutnya ditulis PE) merupakan fanzine Anarkis Punk terbesar di Amerika Serikat yang didalamnya berisi reportase politik maupun musik dari perspektif Anarkis. Isi majalah ini banyak memuat periodikal yang ditujukan bagi pembaca-pembaca yang secara intelektual mulai berkembang menjadi aktivis dan mulai meninggalkan sisi musikal gerakan Punk ke format politik.

Sebelumnya perlu diketahui Scene di Eropa banyak memiliki fanzine-fanzine dan band-band Anarkis karena sejarah punk disana lebih aktif dibandingkan rekan-rekan mereka di Amerika serikat. Para pembuat dan editor-editor fanzine ini terinspirasi oleh gelombang ke 2 Punk di Eropa (1980 – 1984) yang sangat berorientasi politis. Band-band seperti CRASS, CONFLICT dan DISCHARGE di Inggris, THE EX dan BGK di Belanda serta MDC dan DEAD KENNEDY di Amerika Serikat merubah Punk dari berandalan Rock N Roll menjadi para pemberontak yang berfikir. Semangat ini diwariskan sekarang oleh jutaan band-band yang memainkan berbagai ragam spektrum musikal Punk. Los Crudos yang menjerit didepan wajah para penindas dengan lirik-lirik eksplisit bagi kesadaran kelas serta Propagandhi yang menemukan tempatnya dalam irama pop Punk yang gampang disenandungkan, ini semua menghasilkan ribuan anak-anak muda diseluruh dunia dengan bangga menyebut diri mereka “Anarkis” dan mulai secara sehat menunjukkan ketidaksukaan akan rezim- rezim pemerintahan yang ada diseluruh dunia.

“Pada perkembangan awal apa yang disebut peradaban ada segelintir orang yang menyadari jika mereka dapat hidup dengan mudah dan menjadi kaya dengan membuat orang lain bekerja bagi mereka, Orang-orang ini menggunakan tipuan bahkan kekerasan untuk menginstitusi diri mereka sebagai ketua, orang suci, raja atau pendeta. Dengan menggunakan ancaman dan tahayul mereka membuat orang – orang lain patuh, dimana orang-orang ini selalu menjadi subjek dari orang-orang yang menemukan cara tersebut dan kemudian menjadi penguasa- penguasa baru atas nama reformasi yang tidak akan pernah menghasilkan perubahan apa-apa karena tetap mempertahankan adanya pemerintah”(PE des 1989, hal 19, Felix “sejarah singkat Anarkisme oleh Prof. Felix”).

Punk telah beralih pada Anarkisme sebagai alternatif bagi sistem dunia yang eksis sekarang ikut terlibat mencari alternatif dari siklus kontinuitas penindasan yang terjadi dalam setiap revolusi selama ini.

Sifat alami pemerintahan (serta hirarki secara keseluruhan) meliputi penindasan dan eksploitasi bagi semua orang- orang didalamnya (atau paling tidak terkena efeknya). Tidak seperti kontra kultur borjuis lainnya Punk menolak Komunisme beserta semua tradisi sayap kiri – pemerintah – demokrasi terlebih lagi kapitalisme. Reformasi yang dilakukan partai besar dianggap Punk tidaklah cukup karena amat sangat bersifat statis (misalnya dengan tetap mempertahankan perlunya pemerintahan formal). Reformasi hanya MENYENANGKAN bukan MEMBEBASKAN orang-orang yang telibat didalamnya. Meskipun demikian seperti halnya Komunisme, Punk terlibat dalam berbagai gerakan-gerakan yang mendukung hak perempuan, kelas pekerja serta sama-sama membenci masyarakat kapitalis. Banyak anggota- anggota komunitas Punk terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi yang diorganisasi oleh Liga Spartakis atau grup-grup Marxis, Leninis, Trotskys lainnya. Hal ini dikarenakan mereka memiliki goal-goal yang mirip dalam beberapa isu yang spesifik. Anarkisme dan siapa saja yang membaca sejarah sadar akan realitas Komunisme yang telah melenceng jauh dari goal “ideal” akan sebuah “negara”, apalagi bila dilihat dari kaca mata Anarkis yang menolak negara. “Grup-grup komunis yang telah kehilangan kekuatan membicarakan tentang kebersamaan dalam satu garis dan menampilkan Komunisme sebagai kekuatan mulia berperang demi persamaan dan keadilan menghadapi dominasi Kapitalis. Tetapi faktanya para partai-partai sayap kiri secara alamiah bersifat autoritarian. Setiap sistem yang didalamnya memiliki bagian dari filosofi dominasi satu manusia oleh manusia lainnya memiliki kemungkinan untuk menindas.

Kelompok-kelompok komunis tidak akan pernah memperjuangkan pembebasan massa karena hal tersebut hanya akan membuat mereka terhambat dalam upaya untuk memegang kekuasaan. Ketika mereka memperoleh jalan kearah kekuasaan maka mereka akan mengadopsi sifat menindas seperti halnya penguasa-penguasa negara sebelum mereka” (PE #2 Februari 1990 Hal 22, Felix dan Rat, Revolt Against communism). Bukti- bukti akan sifat menindas komunisme tidak hanya mengacu pada keadaan rezim – rezim penindas komunis yang ada saat ini, karena hal tersebut sebenarnya telah terjadi sejak pemberotakan Krondstat tahun 1921, gerakan Anarkis Ukrania tahun 1918 – 21 dan perang sipil spanyol tahun 1936 – 1939 ketika para Anarkis dihianati dan dihancurkan oleh kekuatan totalitarian Komunis.

Rezim-rezim Komunis secara substansial tidak berbeda dengan rezim-rezim yang mereka tumbangkan, paling tidak dalam satu subjek MENJADI PENGATUR/PENGUASA sedangkan Anarkis percaya revolusi bukanlah suatu pergantian yang sederhana (meskipun mungkin sangat amat berdarah) dari satu pengatur ke pengatur lainnya_karena Anarkis berarti tanpa pengatur/penguasa. “kita hidup dizaman dimana revolusi hanyalah berarti hasil rekayasa kelas profesional satu organisasi komunis yang merencanakan untuk menggulingkan sistem kapitalis dan mencoba menggantinya dengan sistem yang sama busuknya jika tidak lebih menindas dari yang ada sekarang” (PE #1 hal 29 ,Band Minnessota Destroy) Dalam pengertian ini revolusi hanya menjadi lingkaran setan : satu pemberontakan tanpa orientasi yang hanya akan menguatkan posisi kelas penguasa baru yang akan menggantikan posisi penguasa lama. Komunisme tidak memiliki ketertarikan akan pembebasan diri dari mental penguasaan yang tidak bisa lepas dalam segala segi kehidupan kita saat ini : untuk menghapus kekuatan itu sendiri, hal yang merupakan ideal para Anarkis__..dan karena hal ini pula maka Komunisme sama tidak diingkan oleh para Anarkis sebagaimana Kapitalisme.

Gerakan Punk berasal dari negara-negara yang memiliki kebijakan-kebijakan demokrasi palsu Kapitalis. Hal yang membuat Kapitalisme beserta masalah-masalah yang diciptakannya menjadi target utama para Punk politis. Kurangnya perumahan yang menciptaka tuna wisma, klasikisme yang menyebabkan pemikiran sempit serta eksploitasi ditempat-tempat kerja merupakan hasil dari sistem yang dibangun atas dasar kerakusan. Sementara tidak perlu dipungkiri jika ternyata sistem kapitalisme juga membuat sebagian orang dapat merasakan kemewahan hidup. Yang merupakan hasil eksploitasi dari mereka- mereka yang tidak memiliki kemewahan. Kepercayaan kuno akan menjadi kaya melalui kerja keras dan kejujuran adalah mitos paling bodoh yang pernah dicekokkan ke kepala kita_.karena bila hal tersebut benar-benar terjadi maka saya sudah amat sangat kaya saat ini. Dalam masyarakat kapitalis definisi kesuksesan diartikan dalam pengertian kemewahan dan komoditas, dimana dengan menggunakan definisi ini kelas menengah sudah “lebih dari cukup” akan menolak perubahan radikal, dengan status kelas menengah mereka sangat ketakutan menjadi “miskin”..kecenderungannya adalah mereka yang merasa miskin secara material merasa HARUS (dan lebih sering lagi) bekerja keras demi memenuhi kemewahan gaya hidup kelas menengah. Fakta bahwa orang – orang lebih memilih menjarah peralatan stereo dan TV daripada makanan dalam kasus – kasus penjarahan, menunjukkan mereka telah teryakinkan bahwa hidup yang lebih baik berarti lebih banyak memiliki barang- barang. Tidak diragukan kemewahan dan uang pada saat ini membuat hidup menjadi lebih mudah_tetapi untuk menilai kesuksesan dan kegagalan hanya dalam term ini memiliki dampak yang amat berbahaya. Kapitalisme berhubungan dengan model – model teoritikal yang mengasumsikan tiap – tiap manusia mencoba untuk MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN INDIVIDUALNYA_. “dengan menggunakan model seluruh mahluk hidup sebagai contoh mengubah semua hal menjadi komoditi-komoditi yang dapat dijual dan dibeli”(Maximum Rock n Roll(MRR) # 98 juli 1991, New World Order). Hal inilah yang paling jelas dalam lingkungan hancur – hancuran yang kita hidupi sekarang _.ketika ekonomi hanya menghitung nilai – nilai produk lingkungan tanpa menggubris kehilangan – kehilangan yang diakibatkannya _.hal ini merupakan satu pertanda yang memastikan bencana bagi generasi manusia berikutnya (termasuk juga didalamnya hewan dan tumbuhan). Dalam kasus yang paling ekstrem “pemikiran – pemikiran mencapai puncaknya ketika manusia saling berperang _dan hal tersebut menjadi komoditi bagi manusia lainnya_. membuat membunuh sudah kehilangan makna “(ibid).

Satu point yang sangat penting untuk ditegaskan disini adalah dengan menggunakan contoh perang teluk yang terjadi di Timur tengah pada tahun `1991. Seringkali dikatakan bahwa kapitalisme adalah kanibalisasi. Pernyataan ini biasanya digunakan untuk menggambarkan bagaimana pemilik korporasi serta eksekutif – eksekutif mengeksploitasi sesama manusia demi keuntungan profit. Kapitalisme sering terlihat sangat gembira di atas kesengsaraan sekelompok orang lain. Selama perang teluk para tentara dari kedua belah pihak merupakan alat – alat yang mampu meningkatkan tingkat bisnis dan menghasilkan keuntungan ; sebuah kenyataan disamping fakta ratusan ribu orang yang tidak tahu menahu kehilangan nyawa ; serta sebuah peradaban coba dihancurkan. Implikasi menyedihkan tersebut memiliki dampak yang berbeda di Amerika Serikat : perang menghasilkan banyak uang, tanpa perlu lebih jauh berfikir kalau PERANG ADALAH SATU KESALAHAN, dapat dilihat dari beragam jenis hasil ekonomi dari perang _kaos Dessert Storm , Kaset Video, hak siaran Televisi serta stiker – stiker dengan slogan – slogan rasis akan kematian orang lain demi keuntungan kapitalis. Perusahaan minyak adalah “pemenang” perang tersebut dilihat dari keuntungan yang dihasilkan. Slogan populer anti perang yang berbunyi “NO BLOOD FOR OIL” seharusnya lebih akurat diteriakkan sebagai “NO BLOOD FOR PROFIT”. Amerika mengeluarkan lebih dari sekitar enam puluh milyar dollar Amerika( belum termasuk kehilangan nyawa baik dari pihak sekutu maupun dari pihak Irak), hal ini merupakan kejahatan moral sebabjika menghitung dengan lebih akurat keuntungan yang didapat Amerika Serikat ” Dengan kontribusi sebanyak 57 bilyun dollar oleh sekutu ditambah 18 bilyun dollar oleh Arab Saudi dan Kuwait buat pembelian – pembelian senjata baru. Peramng ini merupakan lahan emas yang sangat menguntungkan pemerintah Amerika Serikat” tidak saja bagi pemerintah Amerika Serikat sendiri tetapi juga melibatkan perusahaan kontraktor – kontraktor besar yang akan menggemukkan pundi – pundi uang mereka membangun Irak yang hancur lebur_semakin babak belur maka akan semakin banyak yang dibangun kembali dan berarti semakin banyak keuntungan. Kelihatannya mengambil keuntungan dari perang adalah sangat menjijikkan tetapi inilah yang terjadi_..di Amerika Seriakt banyak yang menganggap adalah terlalu jauh untuk berfikir perang dibuat demi keuntungan personal selain menambah jumlah pengangguran dan membangkitkan semangat patriotik dibalik topeng “objektifitas militer”,_.”beberapa orang mungkin akan menggunakan suatu teori konspirasi terpadu untuk menjelaskan fenomena ini, tetapi kai berpendapat hal tersebut tidak diperlukan _.karena kenyataannya sangatlah sederhana : mengambil keuntungan dari perang adalah tindakan rasional; dalam sistem kapitalis yang merubah segala hal menjadi komoditi_.dimana semua nilai ditentukan oleh “pasar bebas” hal ini pula yang membuat kapitalisme _..selama kurun waktu masa hidup setan ini akan selalu berbasiskan dehumanisasi dan eksploitasi manusia (termasuk hewan dan tumbuhan beserta lingkuangan) bagi keuntungan, suatu hal yang tidak akan pernah dapat diterima oleh para Anarkis. Masih ada lagi alasan – alasan lain mengapa anrkis menolak kapitalisme negara demokrasi palsu seperti yang akan dikemukakan kemudian dalam tulisan ini. Para Anarkis Punk kelihatan banyak sepakat dengan hal – hal yang biasa diperjuangkan oleh para radikal, liberal dan kelompok – kelompok “kiri jauh”_.seperti misalnya kepercayaan dalam memperjuangkan hak wanita, kesamaan, rasial, hak – hak bagi gaybaik yang terlibat dalam platform liberal maupun Anarkis_.meskipun demikian kesamaan – kesamaan ini tidak berarti Anarkis tidak saling mencaci maki (bahkan lebih dari hujatan – hujatan pada sayap kanan) dengan sayap kiri : “Kelihatannya cukup aneh ketika para Anarkis berkoalisi dan bekerja bersama grup – grup sayap kiri _.karena dalam kenyataannya Anarkisme sangatlah berlawanan bagi sayap kiri maupun sayap kanan”(PE # 2 Felix dan Rat) Protes – protes anti perang teluk di Amerika Serikat dapat mengilustrasikan perbedaan mendasar antara sayap kiri dengan para Anarkis. Para pemrotes sayap kiri menunjukkan ketidak inginan mereka untuk “mengambil sikap egaliterisme radikal”(MRR # 99 New World Order) secara keseluruhan pandangan para Anarkis akan sayap kiri adalah ketakutan untuk melakukan sesuatu yang membawa pada konfrontasi langsung dengan negara”_secara personal penulis (CRAIG O_ HARA) menghadiri 2 protest anti perang terbesar di Washington DC dan melihat tuntutan – tuntutan para Anarkis. Ia juga melihat protest – protest yang dibuat oleh beberapa grup liberal dimana merupakan wahana mengambil point – point bagi grup -grup mereka untuk mengambil keuntungan_sembari mempromosikan diri dan menjual merchandise. “Para pemimpin gerakan – gerakan tersebut secara essensi menyuruh para demostran berada di belakang peneriak – peneriak slogan dan kemudian merapatkan barisan “seperti manusia – manusia yang beradab” serta sangat menentang mereka – mereka yang berada diluar barian_serta para pejalan kaki disuruh berada di trotoar – trotoar jaln dan bertingkah laku bagai media..spontanitas dan kreatifitas telah dikebiri_dan bagi mereka – mereka yang memiliki pandangan berbeda dikontrol oleh “monitor – monitor perdamaian” serta dijaga tingkah lakunya_”(ibid) Proses pembangunan koalisi – koalisi seringkali merupakan hasil dari protes – protes besar yang di dalamnya terdiri dari banyak issue yang menunjukkan interelasi satu sama lain _pesan – pesan gerakan protes direduksi hingga menjadi “Bring Our Troops Back Home Now!!!” sementara hal – hal ini berarti mengurangi nilai – nilai kemanusiaan yang dihancurkan perang _.serta membuat Punk mengadopsi slogan yang mempunyai efek langsug : “FUCK the TROOPS” Mendukung tentara untuk menghancurkan, membunuh atau membawa mereka pulang hanya membatasi dan mengacaukan persepsi akan suatu situasi_”Para pemrotes mereduksi isu – isu perang hanya pada satu isu tunggal yang dicerna sebagai : Militerisme adalah O.K karena yang tidak O.K adalah perang ini _dengan menggunakan cara ini gerakan perdamaian hanya mendukung kebohongan patriotik mainstream _mengkotakkan oposisi mereka dalam term kepentingan alternatif nasional : “Perdamaian adalah patriotik_yang merupakan satu kebohongan karena bagi mereka – mereka yang benar – benar tertarik pada perdamaian HARUS MENOLAK PATRIOTISME dan mengerti jika semua negara dibangun atas dasar penindasan dan eksploitasi sudah amat sangat jelas pada saat ini untuk mengetahui Punk sama sekali bukanlah patriotik ” bagi saya menjadi patriotik sekaligus merupakan oposisi bagi masyarakat adalah munafik _sangat tidak mungkin mendukungpoint – point positif suatu negara tanpa mendukung poit – point negatifnya _.apakah subjeknya kematian, penyiksaan atau ketidak perdulian yang menjadi kenyataan karena adanya satu negara__menurut saya point – point negatifnya lebih besar daripada point – point positif”(MRR #39 Agustus 1986, Martin Sprouse) Protes serta seluruh pendekatan anti- perang yang dilakukan sayap kiri hanya mempromosikan perasaan ketidak percayaan serta keputusasaan individual yaitu dengan memperlihatkan satu – satunya cara mengoposisi perang adalah dengan ikut terlibat dalam sebuah grup dan menitipkan (atau memberikan) kekuatan pada ketua – ketua grup – grup tesebut __..Media sendiri hanya tertarik pada beberapa statement yang diberikan oleh pemimpin – pemimpin atau selebritis_.satu – satunya yang dapat dilakukan adalah dengan membeli T-Shirt atau menulis surat _..bagi sayap kiri metode – metode proses sudah mengalami proses pra – definisi dan merupakan aturan yang cukup ketat mengikat serta hanya berarti kembali pada “hirarki, garis otoritas dan mengambil keuntungan – keuntungan sementara tetap mempertahankan posisi tanpa berusaha mengenali bahwa hal – hal tersebut merupakan kekuatan yang bertanggung jawab akan konflik di teluk : perintah yang harus dipatuhi prajurit adalah berdasarkan sistem yang sama dengan yang kita pelajari dirumah sehari – hari. Pesan dari protes perang teluk tersebut sudah menjadi sangat jelas tereduksi menjadi : Katakan kemarahan kamu (Dengan cara yang paling keras sehingga mendapat perhatian) kemudian pulang kerumah dan nonton televisi”(MRR # 99 Agustus 1991, New World Order) Karakterisasi an kegagalan dari resistensi sayap kiri akan perang teluk memiliki kecenderungan yang sama dengan sayap kanan_..dimana ditolak oleh para anarkis karena selalum menggunakan teknik dominasi_dimana pemimpinnya memberikan perintah pada para pengikutnya yang dengan membabi buta mengikuti perintah – perintah tersebut “Para formal kiri mendominasi dengan satu isu tunggal seakan – akan peniti karir profesional mengusahakan perubahan melalui jalur birokrasi serta mencari status – status dalam perjuangan, semua ini seakan ingin menunjukkan kalau mereka adalah para revolusioner “profesional”_Mirip dengan para komunis sayap kiri juga mencari pembenaran lewat “usulan – usulan” untuk mendukung pemilihan suara bagi para politisi “progresif” yang cepat atau lambat akan menjual suara – suara yang mereka dapat demi kekuasaan dan uang atau kemudian malah menandatangani undang – undang yang akan menindas para pemberi suaranya_. Semua orang yang menyempatkan diri untuk bekerja pada grup – grup non profit yang memiliki “tujuan” pasti pernah memiliki pengalaman akan hal – hal seperti yang dituliskan diatas. Tentu tidak menutup kemungkinan terdapat hal – hal baik yang berhasil dilakukan demokrat – demokrat kiri akan tetapi para Anarkis melihat yang mereka lakuakan hanyalah dibagian kulit luarnya saja dan bukan perubahan yang sebenarnya. Kritik paling mendasar bagi politik sayap kiri adalah bagaimana bagusnyapun proposal akan perkembangan mereka cenderung menginginkan perubahan dengan menjadi bagian dari sistem yang korup dan destruktif..sedangkan para Anarkis hanya tertarik pada PERUBAHAN TOTAL. “jutaan rakyat Amerika Serikat amat sangat tidak puas dengan semua pengatur mereka serta semua pengatur – pengatur yang mengontrol hidup mereka dalam semua tingkatanmeskipun demikian orang – orang ini bukanlah para revolusioner karena mereka masih mempercayai institusi – institusi demokrasi.selama orang – orang masih percaya bahwa mereka dapat memilih orang – orang yang tepat untuk memimpin mereka”legedna demokrasi” inilah yang merupakan satu kekuatyan busuk yang membuat keadaan yang kita hidupi sekarang ini hidup terus. “Legenda Demokrsai” inilah yang menjadi kekuatan pemerintah semua negara di dunia didalamnya beserta para sayap kira maupun kanan mereka beserta politik – politik “progresif” mereka. Tentu saja amt menggoda pada saat ini untuk percaya disuatu tempat masih ada politisi jujur dan baik yang dapat dipilih dan membuat perubahan positif (Ingat legenda satria piningit di Indonesia)jikapun ada manusia yang sejujur ini (baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan) keterlibatan mereka dalam status quo tentu saja menjadikan mereka kandidat – kandidat penguasa berikutnya. Bahkan bila terjadi suatu keajaiban yang memungkinkan adanya para pemimpin – pemimpin “yang baik ini” maka akan muncul sebuah masalah yaitu ketidakpercayaan para reformis ini akan individual – individual serta komunitas – komunitas untuk memecahkan masalah mereka sendiri(lihat kasus – kasus yang trjadi di Indonesia pada saat ini), hal ini dikarenakan para reformis tersebut merasa orang – orang tidak sanggup mengurus urusan – urusan mereka sendiri serta merasa otoritas diperlukan untuk memimpin semua orang dengan sukses ke arah yang lebih baik. “Saya pikir adalah suatu kesalahan besar bergantung pada pemerintah dalam menjalankan satu reformasi ke arah masyarakat yang lebih adil, karena semua masyarakat statis selalu berdasarkan pembagian kelas dan ketidaksamaan”(PE # 13, Maret 1992 hal 6, Felix) bentuk – bentuk reformasi selalu dibesar – besarkan oleh sayap kiri daripada menyerang ke jantung sistem dan menghadapi langsung penyakitnya : sebagai contoh dalam masalah tunawisma dan orang miskin hanya merupakan window dressing dalam agenda – agenda mereka tanpa menyerang langsung keadaan SELURUH SISTEM yang KORUPdan RAKUS yang menyebabkan hukum – hukum kapitalisme. “Jikalau ada sesuatu hal yang perlu diungkapkan maka hal tersebut hanyalah ketertarikan kelas penguasa dan negara akan jutaan individual yang ada di dunia sehingga menjadi cerdas dan membaktikan waktu dalam, hidup mereka untuk berusaha keras tanpa perduli sama sekali akan kehidupan mereka sehingga tidak akan pernah mempengaruhi struktur kekuatan yang dominan saat ini sama ksekali.”(Ibid) Para Anarkis Punk menolak semua fungsi pemerintahan penting untuk dituliskan disini mengenai kemungkinan – kemungkinan yang mereka tawarkan beserta kemungkinan – kemungkinannya juga konsepsi – konsepsi akan Anarkisme akan hal – hal yang telah dikritik diatas. Band Punk pertama yang secara serius tertarik akan Anarki adalah CRASS asal Inggrisuntuk detail sejarah mereka secara lengkap termasuk asal mula dan petualangan mereka maka sebaiknya mencari buku Shibboleth yang ditulis Penny Rimbaud_s..CRASS adalah sebuah komunitas yang terdiri dari kurang lebih dua belas orang, selain sebuah Band mereka juga membuat film, koran dan label rekaman.Band ini dibentuk tahun 1978 sebagai reaksi dari menjamurnya penerimaan serta fashion Punk. Praktek bisnis CRASS ini yang kemudian berkembang menjadi praktek bisnis standar para penerus yang terinspirasi oleh mereka. juga dalam hal merchandise. Hanya dengan penghormatan akan pandangan pacifisme merekalah yang membuat sebagian Anarkis Punk mengacu pada CRASS sebagai salah satu point utama akan referensi ideal para Anarkis Punk. “Anarki adalah satu – satunya bentuk pemikiran politik yang tidak mencari keuntungan atau berusaha mengontrol orang lain lewat kekerasan”(Flipside # 23 Maret 1981, CRASS) CRASS mengutuk baik partai – partai sayap kiri maupun kanan yang menggunakan kekuatan untuk mengontrol maupun memeras orang lain.memiliki ide akan negara sama dengan memiliki ide akan penyerahan sebagian aspek kehidupasn seseorang pada negara (yang dalam beberapa kasus malah menyerahkan hidup mereka)..” Anarki adalah penolakan akan kontrol negara dan representasi akan permintaan bagi individual untuk menghidupi pilihan hidupnya serta tidak lagi perduli pada segala manipulasi politikdengan penolakan pada kontrol maka hal tersebut tidak lain berarti tanggung jawab personal akan semua gangguan an pelecehan yang dilakukan pemerintah. ” Dengan menolak untuk dikontrol kamu mengambil kembali hidup kamu ke tangan kamu dan hal inilah yang disebut Anarkikarena Anarki bukanlah chaos..Anarki adalah suatu keadaan dimana kamu mengatur diri kamu sendiriinilah keadaan Anarki..bukan suatu ajang chaos dimana semua orang melakukan apa yang mereka inginkan tanpa tanggung jawab”(Ibid) Anarki adalah ketika individu – individu hidup bersama dalam kepercayaan dan penghormatan akan satu sama lain. Pertanyaan tentang bagaimana Anarkisme memastikan untuk menghidupi pilihan personalnya dalam keadaan masyarakat sekarang sering menjadi dilema, anarklis dengan tegas tidak dapat memaksa orang lain untuk menerima apapundimana hal ini hanya membawa pada diperlukannya proses pengajaran dan internalisasi untuk mencegah prejudis dan keserakahan. “Penghormatan akan orang lain (termasuk properti) tidak dapat sesederhana memintanya begitu saja karena hal ini merupakan proses belajar..Masyarakat kapitalisme dimana kita hidup sekarang ini merupakan contoh akan masyarakat yang dibangun dalam keserakahan..sebuh proses sosialisasi yang dipaksakan dalam kehidupan keseharian kita sehingga terbiasa memperlakukan manusia lainnya sebagai objek.” (PE # 5 ,Anonymus) Dengan kata lain Anarkis atau orang – orang yang menginginkan suatu akhir perubahan yang positif harus bersedia mengajarkan dan “mensosialisasikan” masyarakat untuk berfikir dalam isu – isu yang manusiawi sehingga memungkinkan untuk membuat suatu masyarakat yang bebas benar – benar terjadi. Untuk mencapai perubahan akan suatu ideologi tanpa pemerasan maupun kekerasan para Anarkis harus berfikir umat manusia mampu dan menginginkan perubahanjika tidak maka para Anarkis hanya akan kembali jatuh dalam lingkarasn setan dimana memaksa dengan menggunakan sikap yang sama dengan hal – hal yang mereka benci.suatu kontradiksi bagi para Anarkis untuk memaksakan hal – hal yang dipercayainya pada orang lain.secara alami tidak ada orang

serakah, egois dan saling membenci satu sama lain karena memang “bersifat” demikiankarena hal tersebut merupakan hal yang dikondisikan oleh masyarakat yang dari lahir hidup dalam masyarakat yang mengeksploitasi satu sama laininilah hal yang dibutuhkan sistem yang kita hidupi sekarang terus berjalantentu saja jika seorang anak ditunjukkan pada ide – ide pacifis serta humanitarian yang baik dan bukan ide – ide yang dengan mudah dapat mereka temui dikeseharian pada saat ini, masyarakat tentu saja akan memiliki pandangan yang berbeda dengan yang ada sekarang ini di seluruh dunia(MRR # 48 April 1987/ Band New York A.P.P.L.E) Para Anarkis harus memikirkan bahwa semua orang mampu mengatur diri mereka atau Anarkisme hanyalah menjadi satu hal yang elitis dan mengatakan bahwa goal yang ingin mereka capai adalah satu hal yang tidak mungkinIde – ide tersebut seringkali berdasarkan asumsi bahwa sifat alami manusia sebenarnya baik dan dibuktikan oleh pengamatan Kropotkin bahwa semua kemungkinan befungsi tebaik ketika mempraktekan saling tolong menolong, pemikiran ini adalah yang kemudian menjangkau dari pemikiran Aristoteles akan suatu keyakinan bagi pekerjaan profilik linguistik hingga Noam Chomskyhal lain yang perlu untuk diketahui adalah para Anarkis yang telah menyerah pada basis massa mayoritas Anarkis setuju akan usaha “pembelajaran” tanpa harus menjadi seorang pemimpin. “Dengan satu atau lain hal orang – orang harus mempelajari Anarkisme. Tetapi pada saat ini kebanyakan propaganda anarkis kelihatan seperti ceramah pada orang – orang bodoh” Bagi para intelektual apalagi orang awam amat sangat sulit melihat gerakan Punk sebagai kekuatan yang serius bagi revolusi. Imaji media akan Punk rocker adalah seseorang yang biasa ngobat dan merusak diridan hal inilah yang melemahkan Punk sebagai satu ancaman politikmeskipun demikian hal ini tidak menghentikan gelombang baru Anarkis Punk membuat retorika – retorika akan perubahan dan tindakanselama kurun waktu 80 an hingga 90 an Anarchist Youth Federation(di Minnesota, Tennessee, CaLifornia dan Maryland), Twin Cities(Mineapolis) Anarchist Federation, Cabbage Collective (Philadelphia), Tools Collective (Boston), Positive Force (Washington DC) serta banyak lagi organisasi – oraganisasi lain yang melakukan banyak kegiatan seperti pertunjukkan/acara dan pengumpulan dana bagi tujuan – tujuan yang baik. Pada saat ini collective Punk berkembang dan menyusut dengan cepat diseluruh penjuru duniacontoh paling baik akan semangat kolektif adalah apa yang dilakukan oleh Positive Force di Washington DC. “Positive force (PF) adalah grup yang terdiri dari anak – anak muda di darah DC yang bekerja bersama – sama bagi perubahan. Kami mengorganisasikan pengumpulan dana dan pertunjukkan – pertunjukkan gratis, demonstrasi serta pengajaran – pengajaran berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan orang – orang yang membutuhkan. Kami menentang rasisme, seksisme, Homofobia, militerisme, kekerasan, ketidaksamaan ekonomi serta sensor dan banyak lagi hal – hal jelek lainnyaPF bukanlah bagian dari suatu partai politik atau rantai komando kepemimpinan karena merupakan kumpulan anak – anak muda yang bekerja bersama – sama demi perubahan.”(Pamflet PF) PF sangat aktif dalam berbagai protes anti perang teluk serta mengumpulkan ribuan dolardbagi berbagai tujuan seperti bank makanan, Washington Peace Center, AIDS Center dan banyak lagi lainnyameski PF masih sering dianggap statis dan Reformis oleh banyak Anarkis yang lebih radikal secara sukses PF telah membangun komunitas dan kesadaran. Sebuah buku sedang ditulis oleh pendiri(bukan pemimpin) PF Mark Andersen tentang filosofi serta sejarah scene Punk di Washington DC. Sekali lagi kebanyakandari para Punk I iterinspirasi oleh kata – kata dan tindakan – tindakan band – band politikal Punk seperti CRASS. Secara khusus CRASS pernah bekerjasama dengan Campaign For Nuclear Disarmament (CND) di awal tahun 80 an. Steve Ignorant mencoba mengingat hal tersebut “Pertama kali kami mengunjungi tempat tersebut kantor CND di Kings Road hanyalah kantor kecil berisi dua orang dengan poster – poster 60 an dimana – mana. Kami katakan kami akan bekerja sama dengan mereka.mulai saat itu Punk mulai mengenakan simbol Peace dan mempelajari tentang sejarah perang.sejak saat itu dimulailah semuanyakita mulai menunjukkan situasi yang sebenarnya pada orang – orang dimana tidak ada yang lemah dan Hippies akan perdamaian”(MRR # 62 Juli 1988, Steve Ignorant CRASS) hal lain yang dilakukan CRASS serta band – band lainnya adalah dengan membuka Anarchy Center di London, tempat ini digunakan sebagai toko buku, tempat bermain band dan squat bagi mereka – mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.sayangnya center ini kemudian ditutup karena tindakan Vandalisme dan dijadikan tempat penggunaan obat – obatan bagi mereka yang mengartikan “NO RULE ” berarti tanpa TANGGUNG JAWAB..Center – center yang mirip dengan ini kemudian berkembang sepeti EMMA Center yang terdapat di Mineapolis, mereka menghindari penggunaan obat – obatan dan vandalisme sehingga terhindar dari yang terjadi pada pendahulunya. Sebelum lebih jauh membahas pada metode – metode yang digunakan para Anarkis untuk mendapatkan tujuannya serta berbagai argumen akan pacifismeperlu digarisbawahi bnahwa banyak Anarkis yang hanya memiliki Goal – goal yang sangat terbatas. Biasanya Anarkis Punk tersebut cukup puas dengan lingkaran teman – teman mereka sendiri serta menolak menyebarkan Anarkisme dengan skope yang lebih luas. Sikap ini dapat diinterpretasikan sebagai satu konsepsi bahwa dirinya adalah Anarkis tetapi tidak menerima fakta bahwa orang lainpun dapat mengatur diri mereka sendiri.ide ini merupakan cerminan budaya borjuissuatu kepercayaan bahwa “saya OK dan orang – orang lainlah yang ngaco” bukanlah Anarkismehal – hal inilah yang sering terdapat dalam tulisan – tulisan Anarkis Punk. Anarki secara personal merupakan subjek akan klaim statis bahwa Pemerintah dan bentuk – bentuk penegak hukum diperlukan untuk mencegah pembunuhan dan pencurian.sedangkan para komunis maupu republikan yang paling taat sekalipun akan menyangkal membutuhkan pemerintah untuk mengontrol dirinya sendiri.mereka mengatakan hal tersebut dibutuhkan oleh MASSA(untuk lebih lengkap tentang gerakan ANTI – MASSA tunggulah terjemahan dari Nothing Left Collective)meskipun demikian Anarki Personal (yang berarti hanya menyimpannya bagi diri sendiri tanpa berusaha berkomunikasi dengan orang lain) adalah elitis dan counter revolusionari.orang – orang ini telah menyerah akan harapan bagi perubahan besar dalam masyarakat, tetapi bila mereka juga tetap aktif menyebarkan pandangan mereka pada orang lain dalam lingkungan mereka, hal inilah yang membuat mereka masih dianggap kontibusinya dalam komunitas Anarkis Punk.. Pacifisme telah menjadi subjek penting dalam komunitas Anarkis akhir – akhir ini, kondisi invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 91 membuat mereka mencari cara baru dalam resistansi.band – band Anarkis pada awalnya mempraktekkan Pacifisme sebelum mereka sendiri yang kemudian menolak pandangan tersebutBand – band Inggris seperti CHUMBAWAMBA dan CRASS serta band Skotlandia POLITICAL ASYLUM adalah yang pertama – tam menyuntikkan pandangan ini. “Tidak ada kontradiksi antara Anarkisme dan PacifismePacifisme bukanlah menjadi Pasif.bagi saya Pacifisme merepresentasikan penolakan yang dalam untuk mengambil nyawaide bahwa Pacifisme adalah kepasifan adalah se naif ide bahwa Anarki adalah Chaos” (Flipside, CRASS) CRASS adalah yang menunjukkan pacifisme bukanlah respon pengecut pada kekuatan. “Sebagai seorang Pacifist saya berdiri menentang organisasi militerisme, saya percaya bahwa penggunaan kekuatan untuk mengontrol orang lain adalah pelanggarang harga diri manusia, jika saya menemukan diri dalam posisi dimana kekuatan mengancam saya secara langsung serta akan melanggar hak – hak serta harga diri saya maka saya akan mencegahnya dengan melakukan semua hal yang saya bisa. Dalam situasi tersebut saya TIDAK AKAN MENGECUALIKAN PENGGUNAAN KEKERASAN. Pacifist Tidak Ingin Menjadi MARTIR meskipun demikian Pacifisme menekankan bahwa TANPA – KEKERASAN adalah sejalan dengan Anarkisme. Bahwa OTORITAS adalah SALAH bahkan bila ANAR

KI sekalipun menjadi OTORITA maka hal tersebut amat sangat salahPacifist Punk menemukan sangat suli bagi mereka menyebarkan pandangan tersebut dalam komunitas dimana Pacifisme sering diartikan dalam konotasi mainstream seperti yang dilakukan GANDI. ” Banyak orang masih percaya Pacifisme secara terbuka sangat mudah diinfiltrasi musuhdaripada satu fakta yang sangat jelas bahwas PERANG = KEMATIAN=KESALAHAN. Logika dasar yang fundamental ini dianggap BENAR TAPI TIDAK REALISTIK dalam dunia dimana keserakahan dan Paranoia membuat PATRIOTISME seakan – akan hal yang alami kedua setelah SURVIVAL..”(SUB HUMAN EP RATS .Bluurgh records 1983) Perdebatan yang lebih mendalam akan pandangan pacifist Anarkis datang dari perbedaan antara ENDS (hasil akhir) dengan MEANS (maksud dan tujuan)hal ini adalah karena kesadaran amat sangat sulit untuk menghancurkan semua negara disunia tanpa menghancurkan orang – orang yang mereka perangi. Saya kebetulan salah satu orang yang percaya hasil akhir dan meksud serta tujuan harus merupakan satu hal yang konsisten yang berarti berbohong, membunuh dan berdusta sejauh yang saya bisa tidak akan pernah saya lakukan”(MRR # 77 Oktober 1989, Mike Gunderloy editor Factsheet Five) Bagi pacifist yang tergabung dengan para Anarkis REVOLUSI HANYA BISA DATANG LEWAT EDUKASIkarena hanya dengan menunjukkan tanpa memaksakan maka setiap orang dapat MEMBEBASKAN DIRINYA SENDIRI sebagai pijakan kuat jika menginkan satu revolusi menciptakan masyarakat Anarkis benar – benar terwujud. Seringkali para Anarkis yang menggunakan kekerasan “bertindak dari ego daripada hati dan membuat mereka semakin sering menggunakan kekerasan dari yang mereka butuhkan” (Assault With Intent to Free (AWIF) # 9 musim gugur 1991 hal 34, SKULL) Pacifist memegang pandangan bahwa “memproduksi literatur dan debat dalam suatu isu akan lebih lebih meyakinkan orang daripada menggunakan molotov”(Ibid) Alasan utama Anarkis Punk menjadi Pacifist terletak pada ide akan Anarki sendiri ” Dengan goal – goal menuju ketidak adaan pemerintah serta opresor – opresornya, kekerasan oleh para Anarkis sama sekali tidak mencerminkan pernyataan Anarkis selama ini yang menentang kekerasan yang dilakukan dalam politik yang selalu terjadi”(PE # 5 hal 11. Tood Mason editor IN* CIT) Hal lain yang merupakan alasan jelas bagi para Anarkis untuk mengadopsi sikap -sikap anti kekerasan adalah perbedaan jumlah kekuatan antara Punk serta Counter Culture Freaks lainnya dengan pemerintah – pemerintah yang mereka hadapi di semua negara di dunia. Kesadaran bahwa sangat tiak mungkin menggulingkan pemerintah sendirian apalagi mengharapkan warga negara status quo membantu mereka. Hal lain adalah sangat tidak berguna bila ngotot dan tertangkap apalagi terbunuh. “Bermain – maion dengan romantisme revolusi adalah kekuatan massa yang disertai penggunaan kekerasan akan membuat sesorang terbunuh jauh sebelum waktunya mati ; atau paling tidak berada di balik terali besi.bahkan jika kekerasan tersebut berdasarkan bela diri murniapa kamu masih mendengar kabar terakhir dari Black Panther defensif yang bersenjata lengkap akhir – akhir ini ??” (Ibid) masih banyak Punk masih menganggap serius romantisme – romantisme klasik revolusi dengan melakukan kejahatan – kejahatan kecil tidak efektif atau tindakan – tindakan atas nama revolusi imajinerPacifist Punk mendorong para Anarkis lainnya jika masih banyak yang harus dilakukakan sebelum (Semoga saja tidak diperlukan) suatu tindakan kekerasan dijustifikasi sebagai suatu tindakan bagi terbentuknya masyarakat Anarkis saat ini “semakin banyak tindakan – tindakan tidak berguna yang dilakukan akan menghasilkan lebih banyak orang mengatakan dan menulis kita adalah Punk – punk tanpa otak yang belum dewasa” (AWIF, SKULL) Kontradiksi yang selalu menjadi bagian dari dunia Punk terjadi kemudian ketika beberapa dari para penggagas ide Pacifist sendiri yang kemudian mempertanyakan gagasan tersebut. Anggota – anggota band Inggris Chumbawamba serta Steve Ignorant dari CRASS sendiri yang kemudian menolak dan melihat Pacifist sebagai ide naif. ” sayang sekali dunia nyata tidak berdasarkan premis – premis moral, jika politik dan perubahan revolusioner adalah tentang moral.kita telah menang berabad – abad yang lalupada saat – saat dan tempat – tempat tertentu kita ternyata harus menggunakan kekerasan (MRR # 104 januari 1992, Ramsey Kanaan, Political Asylum)bahkan semakin lama Pacifist dilihat sebagai satu taktik yang tidak menguntungkan ” saya percaya filosofi Pacifist sebagaimana saya mempercayai tuhantetapi didunia nyata saya kesulitan untuk membuktikan Tuhan eksis! Ini dunia nyata dengan kekerasan nyata yang banyak terjadi dalam masyarakat kita. Dengan tidak mempersiapkan diri untuk berhadapan dengannya baik mental maupun fisik adalah satu resiko besar untuk diambil”(PE # 5, Dan sang Edit- terrorist) Felix serta Dan dari kolektif PE seringkali memberikan informasi dalam fanzine mereka bagi persiapan – persiapan menghadapi kekerasan. Artikel yang direkomendasikan disini adalah yang dimuat dalam buku “MAKING PUNK A THREAT AGAIN” dalam sub titel Turn Up The Heat dimana Felix memberikan kebutuhan akurat akan pengetahuan minim penggunaan senjata api. Tidak ada kriteria yang pasti yang dapat diberikan untuk menentukan kapan dan bagaimana kekerasan dapat diterima.

Salah satunya yang terjadi dalam konflik selama protes – protes anti – perang teluk dimana Pasifis sering diprotes karena liberal dan tidak efektif “Minggu – minggu pertama protes di San Fransisko membuat ketegangan antara Pasifis mainstream dengan mereka yang menggunakan konfrontasi langsung yang radikal. Kami semua menyaksikan demonstrasi “damai” hanyalah kedok untuk mempertahankan depot – depot rekruitment kadang mereka malah membantu memadamkan api yang disulut demostran lainnya.sambil meneriakkan “anti – kekerasan” yang terngiang terus di kepala kami” (MRR # 100 september 1991, “The War At Home”)

Penulis di atas telah menolak Pasifisme tanpa menyadari spektrum yang dipancarkan pandangannya dia merasa Pasifisme didukung oleh kesadaran tinggi yang termanifestasi secara puritan dalam kebenaran diri serta tidak menyisakan tempat bagi kemarahan dan spontanitas “seperti halnya menciptakan massa tanpa warna yang ingin menjadi martir dan ketakutan akan energi hidup yang tidak terkontrol dibandingkan ketakutan akan kematian.” (MRR # 99, New World Order) Sementara saya setuju dengan kutukan diatas perlu digarisbawahi bahwa bukan penyerahan diri yang membuat gelombang protes anti perang teluk pada saat tersebut karena bagi sebagian orang hal tersebut merupakan taktik – taktik untuk mencapai tujuan dimana kadang kekerasan diperlukan tetapi kadang pula menjadi counter produktif” (Ibid)

Mengakui terdapatnya banyak kekerasan dalam hidup kita serta mengatakannya sebagai satu hal yang salah kelihatannya tidak menghentikan orang lain untuk melakukan hal tersebutide bahwa kekerasan adalah satu – satunya yang menghasilkan sesuatu adalah argumen yang sangat berbahaya, seperti halnya argumen “mungkin akan membuat lebih baik” yang sangat ditentang para Anarkis.

Para Punk non Pasifis sejauh ini tidak mengakibatkan kekerasan akan manusia bagi signifikansi politik mereka. Perkelahian dengan polisi seringkali terjadi sepanjang tahun 80-an (bahkan hingga sekarang) tetapi biasanya terjadi akibat dilarangnya acara-acara atau pertunjukkan. Punk tidak pernah terlibat dalam kekerasan berkedok revolusi atau pembunuhan politik, yang pasti Punk sama sekali tidak berorientasi kekerasan tidak perduli apa yang dikatakan media. Hanya baru-baru ini saja Punk secara serius tertarik dengan perjuangan bersenjata. Material – material yang tersedia tentang Red Army Fraction atau Angry Brigade, Weatherman serta Black Panther serta kelompk-kelompok yang memilih jalur perjuangan bersenjata seringkali di review dalam fanzine – fanzine hal ini ditambah dengan populernya perjuangan EZLN di Meksiko yang membuat semakin banyak Punk menolak ideologi PacifismeDiharapkan banyak lagi mereka yang memilih jalur – jalur lain untuk mensupport perjuangan diseluruh dunia bagi kemerdekaan individu mempersiapkan diri mereka dengan baik. Sementara kekerasan terhadap otoritas seringkali direview dalam berbagai sudut pandang yang bertentangan, kekerasan terhadap properti telah menjadi statement yang umum dari kedua belah pihak untuk meminta perubahan. Para Punker dari seksi – seksi lingkungan hidup sering mengacu pada tindakan – tindakan yang menacu pada vandalisme dan pengrusakan properti. Tindakan – tindakan tersebut seringkali tidak terpublikasikan dengan baik sehingga menutupi signifikansi mereka, membuat pandangan umum melihat tindakan mereka sebagai hooliganisme. Para Punk di Belanda menghancurkan stasiun bensin SHELL dengan molotov karena keterlibatan mereka di Afrika Selatan, belum lagi Punk diseluruh penjuru dunia menghancurkan laboratorium penyelidikan yang menggunakan binatang sebagai percobaan serta properti-properti pendukungnya, billboard seringkali dirusak dan diganti untuk menyampaikan pesan – pesan politik.

Bagi para Pacifist Punk biasanya sejalan dengan hal – hal diatas karena pacifist mereka hanya berlaku bagi mahluk hidup. Selama protes anti perang teluk Punk menemukan cara – cara untuk membuat konflik adalah dengan meningkatkan jumlah kerusakan material yang terlibat dalam perang tersebut yaitu dengan propaganda perusakan properti serta penggunaan cat semprot yang mengacu pada vandalisme ; hal ini dimaksudkan secara langsung menghancurkan operasi militer dengan menduduki stasiun – stasiun rekruitment dan memblokade pengiriman persenjataan serta berusaha menghambat semua koneksi yang membuat perang berlangsung terus bahkan lewat jalur kekerasan”(MRR # 100 September 1991, New World Order) PE sangat vokal dalam dukungan – dukungan mereka bagi penghancuran Properti. Editorial PE seringkali menganjurkan dan menuliskan berbagai aksi. Editor PE Dan pernah menuliskan keterlibatannya dalam aksi anti perang teluk di DC “aksi yang pertama – tama bertempat di gedung pemerintahan pertama yang kita lewati. Beberapa pembayar pajak berlarian ketika batu mulai dilemparkan ke jendela – jendela dan dinding – dinding dilumuri cat. Uang dapat mengganti jendela dan kaca baru tetapi seberapa banyakpun tetap tidak dapat mengganti nyawa manusia yang melayang dalam peperangan demi pemerintah” Penghancuran properti tudak hanya dapat dilihat sebagai statement politik karena banyak Punk sekaligus mengadopsi hal tersebut sebagai satu cara bersenang – senang. Punk mengadopsi cara – cara yang biasa digunakan EARTH FIRST! yaitu DIRECT ACTION. Penyabotan dan penghancuran sistem adalah bagian utama dari gerakan Punk meskipun demikian aksi – aksi mereka jarang melibatkan konfrontasi fisik kecuali bila melibatkan Skinhead atau polisi.

punk # 2

anarko punk

Anarko-punk adalah bagian dari gerakan punk yang dilakukan baik oleh kelompok, band, maupun individu-individu yang secara khusus menyebarkan ide-ide Anarkisme. Dengan kata lain, Anarko-punk adalah sebuah sub-budaya yang menggabungkan musik punk dan gerakan politik Anarkisme. Tidak semua punk diiidentikkan dengan anarkisme. Namun, anarkisme memiliki peran yang signifikan dalam punk. Begitu juga sebaliknya, punk memberikan pengaruh yang besar pada wajah dunia anarkisme kontemporer.

Beberapa band punk penting yang cukup popular dan dianggap sebagai pelopor dari gerakan anarko-punk antara lain Crass, Conflict, dan Subhumans. Sedangkan di indonesia beberapa band anarko-punk yang cukup populer antara lain Marjinal, Bunga Hitam, dan lain sebagainya.

Beberapa isu politik yang banyak diangkat oleh anarko-punk antara lain dukungannya terhadap gerakan anti perang, hak hidup satwa, feminisme, isu lingkungan, kebersamaan, anti kapitalisme, dan beberapa kasus-kasus yang juga banyak diangkat oleh para anarkis pada umumnya.
[sunting] Lihat pula

metal # 2

Ghotic metal

Gothic metal adalah sejenis musik metal yang biasanya (namun tidak selalu) memakai dua orang vokalis. Pertama vokal wanita dengan suara soprano, lalu vokal kedua adalah vokal pria dengan gaya vokal dari musik black atau death metal (sehingga gaya vokal seperti itu banyak disebut sebagai vokal 'Beauty and the Beast'). Lirik-liriknya kebanyakan bernuansa pagan, kemuraman, kegelapan. Aliran musik ini paling populer di Eropa, meskipun jumlah penggemar mainstream (kalangan umum) tidak banyak.

Gothic Metal, Gothic Doom Metal & Gothic-Operatic Power Metal

Gothic Metal ialah musik metal yang berasaskan riff guitar seperti musik Thrash/Heavy Metal yang agak bermelodi redup serta diadunkan dan disadurkan dengan unsur-unsur keyboard dan synth, serta lirik metafora/puisi yang menjurus kearah kegelapan,kemuraman dan pagan seperti band My Dying Bride Paradise Lost Anathema->ini band doom yang berpengaruh pada gothic ! dan kemudian dikembangkan oleh band sepertiEvereve dan Crematory.

Daripada musik akar Gothic Metal inilah muncul pula aliran Gothic Doom Metal dan Gothic Operatic Power Metal. Pembawa musik aliran Gothic/Doom yang terkenal ialah Theatre of Tragedy, mereka ialah band Gothic Doom Metal yang pertama yang memperkenalkan konsep “Beauty and the Beast act” iaitu konsep nyanyian yang menggabungkan suara growl seakan-akan Death Metal yang digandingkan dengan suara Mezzo-Soprano penyanyi wanita, bunyi guitarnya agak keras dan berat(Doom). Nightwish pula adalah contoh terbaik band Gothic Operatic Power Metal yang menggabungkan musik Power Metal yang diadunkan dengan keyboard/synth serta lirik yang berlatarkan Gothic serta nyanyian soprano yang menonjol daripada penyanyi wanita.

Sekarang agak banyak kekeliruan yang timbul antara Operatic dan Gothic. Operatic Metal ialah seperti yang dibawa Therion dan Nightwish, yang menggabungkan unsur-unsur Simfoni Orkestra dan vocal Soprano. Vocal wanita dalam aliran Gothic pula lebih kepada Mezzo-soprano (ton nada suara yang rendah, seakan-akan suara nyanyian biasa).

Musik 'Metal'

metal terdiri dari beberapa aliran

contoh :

Heavy metal

Nama Heavy metal digagas oleh Band Hard Rock Tahun 60'an Steppenwolf, dalam lagu mereka yang berjudul 'Born To Be Wild' (ada di baris kedua bait kedua).

"I like smoke and lightning Heavy metal thunder Racin' with the wind And the feelin' that I'm under".

Tapi istilah itu belum dipakai secara tepat sampai pada tahun 1970, ketika Black Sabbath merilis album debut album mereka yang berjudul ' Black Sabbath'.

Dari tahun 1960-an atau bisa disebut Blues Rock seperti Led Zeppelin, AC/DC Classic metal dan disekitar 60an sampai 70'an atau disebut Classic Rock seperti Black Sabbath, Blue Oyster Cult, Deep Purple, Alice Cooper. Permainan Classic metal. Musiknya dikendalikan olehriff yang lebih bluesy.

70'an

Heavy Metal awal 70'an digawangi oleh band-band seperti Led Zepplin, Black Sabbath, dan Deep Purple, Heavy Metal pada era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen Blues yang kental. Judas Priest mengembangkan genre ini dengan menghilangkan unsur blues dan lebih mengandalkan distorsi, beat yang lebih cepat, dan harmoni. Pada akhir 70'an munculah New Wave oF British Heavy Metal yang dipelopori Motorhead, NWOBHM menggabungkan Punk dan Heavy Metal. Band-band NWOBHM lainya adalah Iron Maiden, Saxon, Venom, Diamond Head, dll.

Awal 80'an

Awal era 80'an Di gawangi oleh band-band NWOBAM seperti Motörhead, Iron Maiden, Venom dan Diamond Head. Heavy Metal akhirnya bertabrakan dengen musik Pop hal ini memunculkan genre yang disebut Glam Metal, Glam Metal berhasil menerobos chart-chart papan atas, hal ini menyebabkan Heavy Metal lebih tersebar cepat di seluruh dunia

pada lain waktu kita akan membahas perpecahan dari Punk ,HC ,Skin ,Emo , dan Metal

musik undegruond

underground

Jika dirunut pada sejarah masuknya musik rock ke Indonesia, khususnya kota Bandung, diawali sejak tahun 70-an. Musik rock yang masuk ke Indonesia adalah musik rock yang berasal dari benua Amerika dan Eropa. Pada tahun 50-60an tatanan nilai dan budaya benua Eropa dan Amerika masih sangat konservatif. Nilai-nilai budaya baru yang diciptakan oleh para generasi muda pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan dianggap sebagai ide-ide yang subversif. Pada tahun 50-an para seniman di Prancis dan Inggris biasa mengekspresikan karya-karya mereka di subway atau stasiun kereta api bawah tanah. Karena mereka tidak pernah diberi akses oleh pemerintah pada fasilitas atau gedung-gedung kesenian pada saat itu. Karena dinilai karya-karya mereka mengandung muatan-muatan pemberontakan pada pemerintahan dan dianggap menghujat nilai-nilai konservatif gereja pada saat itu. Utamanya pada saat itu di benua Eropa telah mengalami puncak kejayaan dari sebuah revolusi di berbagai bidang kesenian. Sehingga cenderung menolak hal-hal baru karena dianggap bisa merusak tatanan kemapanan yang sudah terbentuk. Sementara kaum mudanya merasakan sebuah kondisi stagnasi dan kebosanan. Setiap malam para seniman-seniman itu berkumpul mengekspresikan berbagai macam karya ‘avant garde’ mereka. Dari mulai pentas musik, teater, seni rupa, puisi, performance art, hingga karya instalasi yang rumit. Mereka saling berekspresi dan saling mengapresiasi satu sama lain. Karya-karya yang dipertunjukan pada saat itu memang hanya diketahui oleh kalangan terbatas. Karya yang diciptakan pada saat itu menjadi semacam ‘basic’ bagi perkembangan semua karya seni yang ada sekarang. Dari sinilah istilah ‘underground’ untuk pertama kalinya muncul.

‘Underground’ Era Revolusi Industri

Di tahun yang sama juga benua Eropa mengalami revolusi industri. Ketika sektor-sektor industri di Eropa melakukan transformasi teknologi yang drastis. Demi efesiensi dan mempercepat kapasitas produksi pasca berakhirnya perang dunia kedua pabrik-pabrik di Eropa mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin. Hal ini berdampak pada banyaknya pengangguran dan menimbulkan masalah sosial. Di Inggris lahirlah kelompok-kelompok buruh yang terkena PHK mengorganisir diri ke dalam kelompok berbagai organisasi ‘working class’. Dengan dandanan khas rambut plontos t-shirt putih dan bersepatu boots dr.Martens, setiap malam mereka menggelar pentas-pentas musik di subway serta melakukan ’squat’ atau reclaiming terhadap gedung-gedung kosong bergabung dengan para imigran dari Jamaika, Maroko, dan Afrika. Lirik yang disampaikan adalah lirik protes terhadap kondisi sosial dan kesetiakawanan. Dari sinilah muncul proses eksplorasi musik hingga terciptalah musik heavy yang dipelopori oleh kelahiran band Black Sabbath. Musik yang kelam dan lirik yang mengekplorasi sisi gelap manusia sebagai penyikapan terhadap kondisi sosial pada saat itu. Kelompok ini terbagi lagi menjadi beberapa ideologi. Ada yang cenderung fasis dan ultra nasionalis dan pastinya jadi rasis. Ada juga yang berideologi kesetaraan dan anarkis. Dari sinilah lahir budaya ‘punk’ dengan segala macam aktifitas seni dan gerakan politisnya.

Puncaknya adalah ketika terjadi peristiwa Paris ‘68 di Prancis. Pada saat itu mahasiswa sebagai bagian dari ‘middle class’ atau kaum intelektual melebur bersama para kaum ‘underground’ dan kaum miskin kota dalam hal ini korban PHK akibat dampak dari revolusi industri melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut perbaikan ekonomi. Selama berminggu-minggu mereka membuat barikade di jalan-jalan kota Paris dan melakukan aksi mogok secara nasional. Hingga akhirnya pemerintah Prancis melakukan reformasi total di segala bidang. Salah satu alumnus peristiwa Paris ‘68 adalah Malcolm Mc Laren yang jadi manajer band punk rock kontroversial sepanjang masa, Sex Pistols.

‘Underground’ Era Flower Generation

Kondisi di Amerika kurang lebih sama. Di Amerika pada tahun 50-an masih menganut sistem politik apartheid dan perbudakan. Masyarakat sosial Amerika pada saat itu terbagi menjadi tiga kelas sosial utama. Kelas borjuis yaitu kaum pengusaha, birokrat dan agamawan yang cenderung rasis dan menjunjung tinggi semangat ‘white supremacy’. Kaum tehnokrat yang terdiri kaum intelektual dan mahasiswa. Kaum buruh yang terdiri dari budak-budak kulit hitam. Pembagian strata sosial ini membawa dampak pada pola berkesenian. Pada saat itu para budak kulit hitam yang kebanyakan berasal dari benua afrika oleh hukum yang berlaku pada saat itu mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Gaji yang tidak sesuai dengan porsi kerja dan tindakan diskriminatif di segala bidang. Semua gerak langkah mereka dibatasi hingga menimbulkan rasa frustasi yang begitu mendalam.

Satu-satunya saluran ekspresi mereka adalah lewat media musik. Mereka biasanya dipisahkan dari lingkungan kulit putih dengan cara kolonisasi. Dibuatkan area perkampungan yang kumuh atau dikenal dengan istilah ‘ghetto’ dan sengaja dibuat miskin secara sistematis hingga menimbulkan kerawanan sosial. Setiap malam sehabis lelah bekerja mereka biasanya berkumpul dan memainkan musik. Musik yang diciptakan adalah musik yang sifatnya sangat personal. Musik yang menjadi ekspresi pribadi dalam mengekspresikan segala kesumpekan dalam diri. Lahirlah kemudian jazz dan blues. Musik yang cenderung instrumental. Karena pada saat itu membuat lirik yang bernada protes sosial apalagi dilakukan oleh kulit hitam merupakan pelanggaran berat. Mereka membentuk komunitas dan menggelar konser-konser sederhana di bar-bar kulit hitam. Saling berekspresi dan mengapresiasi sambil meneriakan protes-protes lewat nada-nada sendu dan bernuansa kelam. Kalaupun memakai lirik maka pengucapannya dilakukan dengan cepat, bergumam dan menggunakan ‘bahasa kode’ yang hanya dimengerti oleh komunitas itu sendiri. Musik yang pada saat itu sangat diharamkan untuk didengar apalagi dimainkan oleh kaum kulit putih.

Dari sinilah muncul sikap DIY [do-it-yourself]. Para musisi kulit hitam ini membuat perusahaan rekaman ‘motown records’ yang khusus memproduksi artis-artis kulit hitam dan mendistribusikannya ke setiap koloni-koloni yang tersebar di seantero benua Amerika. Mereka membuat jaringan komunikasi dan media komunitas kulit hitam. Mulai mengorganisir diri dalam gerakan yang lebih ke arah politis. Salah satunya organisasi ‘black panther’. Lahirlah pionir pejuang-pejuang kemanusiaan yang mengusung isu kesetaraan hak, diantaranya Malcolm X dan Martin Luther King.

Hingga suatu saat Elvis Presley mendobrak budaya konservatif tersebut. Diam-diam dia mendatangi bar-bar kulit hitam yang menampilkan musik blues dan jazz. Dia terinspirasi dari aliran musik tersebut hingga digabungkan dengan musik country. Lahirlah rock & roll. Musik yang pada saat itu mengalami penolakan keras dari kaum konservatif dan kalangan gereja. Rock & roll pada jaman Elvis disebut sebagai ‘musik pemuja setan’. Karena iramanya dianggap mendorong anak muda untuk berjoget seronok dan membangkang pada orangtua.

Ketika Amerika mengalami krisis ekonomi berkepanjangan akibat perang dunia kedua dan terlibat dalam perang Vietnam, beberapa kalangan seniman ‘underground’, kalangan akademisi dan para veteran perang menggelar aksi protes anti perang Vietnam serta menuntut perbaikan kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka menggelar panggung-panggung festival musik secara besar-besaran. Contohnya adalah Woodstock pada tahun 1969. Panggung tersebut diisi oleh artis-artis multi-etnis. Meneriakan semangat yang sama, ‘make peace not war’. Dari sinilah cikal bakal dari kaum hippies. Kaum ‘flower generation’ yang sudah bosan dengan segala kebijakan konservatif yang mereka nilai tidak sejalan dengan semangat perubahan jaman. Namun kembali gerakan ini tidak berlangsung lama dikarenakan terjadi proses komodifikasi dan eksploitasi besar-besaran oleh para pelaku industri mainstream. Terutama industri yang bergerak di bidang hiburan dan fashion. Pada akhirnya hanya dua elemen nilai itulah yang ‘dijual’ dan sampai ke khalayak. Band-band heavy metal pada era itu sudah tidak dianggap ‘underground’ lagi. Beberapa pelaku sub-kultur akhirnya menolak cara-cara tersebut dan lebih memilih kembali pada jalur ‘underground’ serta mengembangkan sistem mereka sendiri. Pada era 70-an para pelaku komunitas sub-kultur ini telah mampu menciptakan dan mengembangkan berbagai penyikapan alternative untuk melawan arus mainstream. Lahirnya industri indie label yang mengakomodir semangat independensi dan berbagai macam media independen adalah salah satu contohnya

‘Underground’ Era Orla

Di Indonesia sendiri pada tahun 60-an ketika Soekarno masih berkuasa, perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik pada saat itu. Soekarno yang berkuasa mengambil poros Jakarta-Beijing-Moskow sebagai garis politiknya di masa perang dingin. Sehingga hal-hal yang sifatnya berbau Amerika dianggap sebagai sesuatu yang kontra revolusioner dan bentuk imperialisme budaya barat. Sehingga musik rock & roll pada saat itu dianggap ‘menyesatkan’ dan ‘kebarat-baratan’ serta dilarang dikonsumsi oleh anak muda Indonesia. Terlepas dari segala muatannya yang membawa pada semangat perubahan, segala sesuatu yang datang dari ‘barat’ pasti dilarang. Semua bentuk kesenian haruslah mengacu pada realisme sosialis dan tidak mengandung muatan borjuisme. Beberapa band seperti Koes Plus mendapatkan perlakuan represif dari aparat keamanan. Beberapa radio yang memutar musik rock & roll ditutup. Petugas keamanan rajin melakukan razia-razia ke tempat keramaian anak muda. Apabila kedapatan mengenakan setelan ‘barat’ pasti ditahan. Apabila ketahuan menggelar acara musik rock & roll atau istilah Soekarno disebut musik ‘ngak-ngik-ngok’ pasti dibubarkan. Sehingga pada saat itu beberapa musisi lokal menggelar acara-acara musik rock & roll secara sembunyi-sembunyi. Biasanya mereka bergerilya dari satu rumah ke rumah yang lain menghindari razia petugas keamanan. Dari sinilah awal lahirnya istilah ‘underground’ di Indonesia.

‘Underground’ Era Orba

Pasca Soekarno runtuh dimulailah era orde baru. Segala bentuk kesenian yang berasal dari barat mulai masuk dan ikut mempengaruhi perkembangan musik Indonesia. Kebijakan politik yang diambil pada saat itu lebih mengarah kepada politik pencitraan bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis dan penuh dengan nuansa keterbukaan. Di tahun 1970-an, musik cadas tidak pernah menyebut dirinya sebagai komunitas musik indie, mengingat pada saat itu Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Uriah Heep merupakan komoditas yang dianak-emaskan oleh industri major label di benua Amerika dan Eropa. Begitu pun dengan musik cadas di Indonesia semacam Giant Step, God Bless, Superkid, atau SAS yang lebih suka mengidentifikasikan dirinya sebagai musik ‘underground’. Komunitas mereka sangat bangga dengan sebutan itu, mengingat tak semua orang suka akan musik yang kekuatan bunyinya jauh di atas 60 dB atau jauh di atas batas toleransi pendengaran manusia. Ada semacam pola imitasi yang berkembang pada saat itu. Terutama dari jenis musik yang dimainkan dan pola fashion. Sehingga yang terjadi adalah proses imitatif kebudayaan luar yang datang namun tidak mampu menyerap kondisi realitas yang terjadi di kultur lokal. Banyak band Indonesia pada saat itu yang mencoba menjadi Deep Purple, Led Zeppelin atau Black Sabbath. Mereka benar-benar meniru habis-habisan apa yang sedang terjadi di luar sana. Namun yang diadopsi hanya sebatas musikalitas dan fashionnya saja. Sementara isu-isu sosial yang terjadi pada tingkat lokal sama sekali tidak tersentuh. Mereka lebih memilih memproduksi karya dengan lirik yang dinilai ‘aman’ dan sebisa mungkin menghindari konflik dengan pemerintah yang totaliter. Fenomena yang dihasilkan pada era ini hanyalah fenomena ‘aksi protes’ yang diekspresikan dalam aksi panggung yang kontroversial, pemakaian obat bius dan seks bebas.

Walaupun ada beberapa band yang dianggap fenomenal pada masa itu namun hanya sebatas di paparan karya musikalitas dan tidak membawa perubahan secara radikal di tingkat masyarakat. Sementara stigma seniman di mata para akademisi terutama musisi rock adalah urakan, tidak mempunyai intelektualitas tinggi, dan bersikap apolitis. Sehingga muncul kesenjangan persepsi yang sangat lebar antara musisi dan kalangan akademisi pada saat itu. Sehingga beberapa gerakan mahasiswa pada saat itu tidak melibatkan musisi secara aktif. Karena apabila kesadaran untuk melakukan perubahan secara bersama-sama itu dimunculkan pada saat era tersebut sepertinya reformasi tidak perlu menunggu hingga tahun 1998.

Ada semacam kegagapan dalam menyikapi realitas perubahan. Di satu sisi kebebasan untuk menyerap segala informasi dari luar mulai terbuka di sisi yang lain proses pemasungan terhadap kebebasan berekspresi kembali terjadi, bahkan lebih mengerikan dibandingkan era Soekarno. Dan itu secara umum kondisi tersebut diterima begitu saja oleh kalangan musisi pada saat itu. Istilah ‘underground’ pada saat itu mengalami pergeseran makna. Hanya diartikan sebagai musik ‘brang-breng-brong’, aksi panggung teatrikal dan kontroversial serta komposisi musik yang rumit dipenuh skill-skill tingkat tinggi. Nilai-nilai perlawanan yang diusung hanya sebatas pada pemberontakan terhadap nilai feodalistik yang sudah mapan namun tidak secara kritis mencari alternatif baru dalam menciptakan nilai pembanding dan nilai tandingan. Baik itu media komunikasi independen maupun sistem ekonomi tandingan yang dikembangkan.

Sehingga yang terjadi adalah gerakan budaya tandingan yang coba disusun pada akhirnya ikut larut dalam dinamika budaya mainstream di mana segala sesuatunya hanya berorientasi pada permintaan pasar [market oriented]. Masa ini berlangsung hingga dekade tahun 80-an.

‘Underground’ di Ujungberung

Ketika pada tahun akhir 80-an arus globalisasi ikut melanda Indonesia. Investasi asing mulai masuk seiring dengan masuknya IMF ke Indonesia. Dan hal tersebut mulai berdampak bagi perkembangan musik ‘underground’ di Indonesia, khususnya di kota Bandung. Arus informasi yang kuat telah mendorong beberapa majalah dan rilisan kaset ‘underground’ dari luar negeri mulai masuk dan banyak dikonsumsi oleh musisi di Bandung. Di Ujungberung sendiri terjadi sebuah fenomena ’shock culture’ yang hebat. Ketika lahan-lahan agraris yang produktif disulap oleh para investor asing menjadi lahan industri yang sarat polutan. Kultur bertani dan bercocok tanam yang kental dengan nuansa komunal tiba-tiba secara drastis dirubah menjadi kultur buruh/pekerja yang secara sistematis diarahkan menjadi mahluk asosial. Hal ini jelas berdampak pada perilaku masyarakat secara umum. Muncul konflik-konflik kepentingan lokal dalam menyikapi masalah tersebut. Pemuda sebagai bagian dari sebuah struktur masyarakat menyikapi masalah tersebut dengan mencari saluran-saluran ekspresi yang dinilai bisa mewakili gejolak perasaan mereka. Maka musik metal dijadikan media berekspresi yang dinilai sesuai dengan kondisi keresahan mereka. Musik yang cepat, agresif serta lirik-lirik protes yang sarkastik menjadi pelarian mereka.

Radikalisme Ideologi DIY Ujungberung

Tahun 1989 ada empat band pelopor di Ujungberung yang sudah memainkan komposisi lagu metal ekstrim semacam Napalm Death, Sepultura, Obituary, Carcass dan lain-lain. Mereka adalah Funeral, Necromancy, dan Orthodox. Mereka adalah angkatan pertama di Ujungberung yang mulai menanamkan radikalisme dalam mengekspresikan karya mereka. Ketika trend festival musik pada saat itu masih berkutat di hard rock dan slow rock, mereka dengan berani mengacak-ngacak panggung festival itu dengan komposisi thrash metal dan death metal. Tampilan fashion yang ofensif dan style musik yang bising mereka bergerilya dari satu panggung festival ke festival yang lain mengusung semangat ‘kumaha aing’. Keikutsertaan mereka dalam festival tersebut lebih mengarah kepada pembuktian eksistensi dan pernyataan sikap. Mereka mulai memproduksi lagu-lagu sendiri dengan mengangkat isu-isu sosial yang sedang populis pada saat itu.

Dengan kritis mereka mereka menyikapi kultur festival musik sebagai bentuk dari pemasungan kreativitas. Parameter penilaian yang justru pada akhirnya malah mengkerdilkan makna kejujuran dalam berekspresi. Semangat menurut pasar hanya menciptakan bentuk keseragaman dalam karya dan pada akhirnya melahirkan kebosanan. Media-media mainstream pada saat itu hanya menampilkan informasi musik yang itu-itu saja. Pada tahun 1993 mulailah terbentuk beberapa komunitas musik ekstrim di Bandung. Mereka rajin membuka ruang-ruang diskusi menyikapi realitas yang sedang terjadi terutama di tingkat lokal. Mengorganisir diri ke dalam bentuk komunitas yang mempunyai kecintaan dan minat yang sama. Saling bertukar informasi dan membuat workshop media dan eksplorasi teknologi alat musik. Penyikapan konkret mereka buktikan dengan cara membuat media-media informasi tandingan yang isinya lebih kepada pengenalan kultur ini kepada khalayak. Dari situlah maka mereka mulai merambah acara-acara festival musik di kota Bandung. Dari mulai event ‘agustusan’ hingga pensi-pensi SMA. Pada masa itu sikap diskriminatif terhadap band ‘underground’ kerap terjadi. Dari mulai aksi teror secara verbal hingga yang sifatnya fisik. Tidak jarang mereka harus menerima hinaan ataupun cibiran dari beberapa orang yang tidak suka atau bahkan yang tidak mengerti sama sekali tentang aliran musik ekstrim. Band-band yang beraliran punk, hardcore, grindcore dan black metal kerap mendapatkan perlakukan diskriminatif dari pihak penyelenggara. Dari mulai jatah waktu tampil yang dikorupsi, perlakuan pihak sound system yang dengan sengaja mengacaukan setting sound, hingga terror fisik dari preman lokal yang merasa tersaingi.

Sikap tersebut terbentuk karena tatanan sosial pada saat itu pada umumnya masih dihinggapi perasaan xenophobia atau selalu merasa khawatir terhadap nilai dan tatanan baru yang muncul. Mereka selalu merasa bahwa hal baru sama dengan ancaman baru. Pada saat itu parameter berekspresi adalah sesuatu yang dapat menembus batasan yang sudah ditetapkan oleh pihak industri musik mainstream. Paradigma musik yang bagus adalah musik yang berorientasi pada kebutuhan pasar yang dapat masuk rating televisi dan menguasai jajaran top-ten radio. Belum terbentuk mental penerimaan yang baik terhadap hal baru yang dapat menambah khazanah keberagaman, utamanya di bidang musik.

Kondisi nyata seperti itulah yang menjadi latar belakang komunitas Ujungberung bercita-cita menggelar acara musik yang konsepnya menampilkan semua jenis musik underground dalam satu panggung. Terinspirasi oleh pagelaran Hullabaloo #1 pada tahun 1994 yang sukses digelar di Gor Saparua yang menampilkan musik underground dengan berbagai macam aliran. Dari mulai hip-hop, grindcore, pop, punk, hingga musik industrial. Komunitas Ujungberung mengadopsi konsep tersebut namun format musik yang disuguhkan lebih kepada sajian musik dengan distorsi tingkat tinggi. Lahirlah acara Bandung Berisik #1 pada tahun 1995 yang melahirkan acara-acara metal legendaris khas ala Ujungberung seperti Bandung Death Fest, Rebellion Fest, dan Rottrevore Death Fest yang rutin digelar secara berkala menampilkan band beraliran metal ekstrim.

Counter Culture

Era 1996 hingga 1997 komunitas musik ‘underground’ di Bandung mengalami masa perkembangan yang pesat. Konsep kolektivisme dan DIY mulai banyak direalisasikan dalam berbagai bentuk kegiatan kongkret. Dari mulai membuat perusahaan rekaman berbasiskan indie label lengkap dengan konsep distribusi dan promosinya, pembuatan merchandise band, pembuatan media informasi komunitas berupa fanzine fotokopian, hingga kepada penggarapan event yang mengandalkan semangat kolektivisme. Jenis karya musik yang dihasilkan makin beragam dan cenderung makin agresif. Lirik yang diproduksi mulai banyak menyentuh hal-hal yang sifatnya politis. Banyak lirik pada saat itu yang bercerita tentang nasib buruh, petani, dan kaum miskin kota. Dengan frontal mulai melakukan kritik-kritik terhadap pemerintah yang dinilai gagal mengatasi krisis. Industri musik mainstream pada saat itu sedang dilanda kejenuhan pasar. Paska booming Slank dan Iwan Fals pada saat itu tidak ada lagi fenomena musik yang luar biasa.

Media-media mainstream mulai kehabisan bahan berita hingga akhirnya komunitas ‘underground’ dengan segala bentuk dinamika pergerakannya menjadi bahan eksploitasi berita. Hampir semua media terutama media cetak mainstream yang ber-target marketing anak muda membahas fenomena pergerakan musik ‘underground’ terutama yang terjadi di kota Bandung. Hal tersebut jelas berdampak sangat besar pada perkembangan musik ‘underground’ pada saat itu yang seolah-olah di-setting menjadi trend musik masa kini. Melalui peran media mainstream pula hingga akhirnya booming musik ‘underground’ ini mewabah hampir di semua kota besar di Indonesia, utamanya di pulau Jawa.

Lahirlah beberapa komunitas musik ‘underground’ di kota Jakarta, Bali, Surabaya, Malang, Yogya dan Medan. Beberapa pagelaran bertema serupa ramai digelar di kota-kota tersebut dalam skala kecil. Di kota Bandung yang notabene adalah barometer musik ‘underground’ pada saat itu hampir setiap minggu Gor Saparua menjadi langganan acara-acara musik ‘underground’ yang diorganisir oleh beberapa komunitas di kota Bandung. Gor Saparua selalu dipenuhi oleh massa ‘underground’ yang rata-rata berusia belia dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Medan, Jakarta, Surabaya, Yogya, Malang dan kota-kota lainnya. Terjadilah transformasi informasi dan proses penyerapan kultur. Dari sinilah awal terbentuknya jaringan komunikasi lintas komunitas dalam rangka memperluas jaringan. Beberapa komunitas dari luar kota Bandung dijadikan basis distribusi bagi penyebaran produk dan informasi yang berkaitan dengan aktivitas sub kultur. Bahkan sekarang sudah terbentuk jaringan event yang diorganisir secara kolektif yang rutin menjalin kerjasama penyelenggaraan event ‘underground’.

Pada masa itu lahirlah acara-acara musik seperti Bandung Underground yang di organisir oleh komunitas Muda-Mudi Margahayu, Gorong-Gorong Bandung diorganisir oleh komunitas punk P.I., Bandung Minoritas, Campur Aduk dan lain-lain. Namun pada masa itu pula situasi politik dan ekonomi Indonesia mengalami guncangan. Masa peralihan kekuasaan yang diwarnai kisruh pertarungan politik di tingkat elit kekuasaan berdampak besar pada perekonomian. Tragedi krisis moneter yang mengguncang hebat perlahan ikut membawa dampak pada perkembangan musik Underground, khususnya di kota Bandung. Demonstrasi besar-besaran kerap mewarnai jalanan kota Bandung. Daya beli masyarakat secara keseluruhan mulai menurun dikarenakan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Hingga pola konsumsi masyarakat pada saat itu berubah dengan cara mengurangi hal-hal yang dirasa tidak terlalu penting. Acara yang biasanya ramai dipenuhi oleh penonton lambat laun mulai sepi pengunjung. Beberapa organiser yang berasal dari beberapa komunitas independen di Bandung mulai menarik diri untuk membuat event musik ‘underground’. Di samping tidak mau mengalami kerugian secara finansial [walaupun pada saat itu dan sampai sekarang tidak pernah mencari keuntungan], juga disebabkan kendala perijinan yang semakin represif terhadap hal-hal yang sifatnya mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Beberapa yang memaksakan diri mengalami kerugian yang cukup besar dikarenakan sepi penonton atau dengan alasan meresahkan dan mengganggu ketertiban secara sepihak dibubarkan oleh aparat keamanan. Beberapa pelaku subkultur ‘underground’ pada masa itu ikut melebur bersama beberapa organ buruh dan mahasiswa aktif menggelar aksi-aksi demonstrasi menuntut perubahan di segala bidang.

Pada saat sulit tersebut justru komunitas Ujungberung banyak mengalami kemajuan yang signifikan. Banyak band-band baru terbentuk dengan semangat dan idealisme yang tinggi. Beberapa band seperti Jasad, Sacrilegious, Sonic Torment, Burgerkill dan Forgotten bahkan telah mampu memproduksi dan mendistribusikan album perdana mereka secara independen. Pada masa itu komunitas Ujungberung mulai membangun basis ekonomi komunitas sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi komunitas dengan cara membangun distro Rebellion yang khusus menjual produk-produk band Ujungberung dan komunitas musik lain di Bandung. Semua murni dilakukan atas dasar dorongan insting untuk bertahan hidup.

Ekonomi Kreatif

Dinamika pergerakan komunitas ‘underground’ sebagai bagian dari sebuah sub kultur di Bandung khususnya di Ujungberung ternyata membawa dampak pada sikap kemandirian ekonomi. Semangat kemandirian atau independensi yang mereka usung telah mampu menjadi trigger atau pemicu bagi eksplorasi kreativitas. Tidak hanya di sektor karya musik saja namun telah meluas pada sektor ekonomi. Spirit pemberontakan yang mereka usung telah mampu menyelesaikan beberapa persoalan sosial yang ada khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Di komunitas Ujungberung sendiri sejak tahun 2004 hingga sekarang telah terbangun beberapa unit bisnis yang berbasiskan komunitas. Dari mulai usaha sablon, distro, konveksi pakaian, studio rekaman, perusahaan rekaman indiependen, jasa distribusi, studio rekaman, usaha penerbitan, toko buku dan usaha warnet. Semuanya murni dikelola oleh para pelaku komunitas ‘underground’ Ujungberung dan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan yang sama. Beberapa pelaku komunitas ini terlibat aktif sebagai kru band dan teknisi studio rekording di kota Bandung. Semuanya saling bersinergi dan menciptakan perbaikan ekonomi minimal bagi para individu dan internal komunitas.

Semua bentuk kreatifitas yang diusung oleh para pelaku industri kreatif dalam hal ini adalah pelaku sub kultur telah mampu memberikan ‘wajah’ pada kota Bandung. Beberapa gelaran event musik yang digelar di Bandung selalu dijadikan tolak ukur dan parameter perkembangan musik bagi kota lain. Bentuk dan perkembangan fesyen dikota Bandung selalu menjadi trendsetter bagi perkembangan industri fesyen di Indonesia.

Pada tahun 2008 hingga 2013, kota Bandung oleh British Council dijadikan proyek percontohan sebagai ‘creative city’ di kawasan asia pasifik. Sebuah kota yang memang secara budaya berhasil dibangun citranya oleh komunitas kreatif berbasiskan indiependen. Proses pencapaian tersebut dilakukan atas dasar insting untuk bertahan hidup dalam mensikapi situasi. Jiwa yang kritis dan semangat ‘pemberontakan’ memanfaatkan potensi yang seadanya namun didukung oleh semangat kolektivisme yang tinggi hingga berhasil mengatasi semua hambatan yang ada – meski tanpa daya dukung yang kuat dari pemerintah berupa kebijakan dan fasilitas yang layak untuk mengekspresikan energi kreatif mereka. Mau didukung atau tidak mereka tidak peduli, karena secara sistem mereka telah teruji kemandiriannya.

Tapi kata kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg Dina Jalur, tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala bentuk perubahan sebagai kulit saja bukan sebuah inti. Sehingga ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euphoria di permukaan. Segala pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif antara lahan-lahan garapan kreatifitas, sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya memberikan hal positif bagi masyarakat luas.

Artikel di atas merupakan bahan presentasi diskusi yang dikutip dari hasil riset penulis untuk penulisan buku sejarah komunitas “Ujungberung Rebels, Panceg Dina Jalur” dan sejarah “Bandung Underground”. Riset dilakukan sejak November 2007 bersama Kimung dari Minor Books dan Common Room Network Foundation. Rencananya buku tersebut akan diterbitkan pada Januari 2009. Beberapa hasil riset ini pernah dipresentasikan di beberapa forum diskusi dan dimuat di beberapa media cetak, seperti Rolling Stone Indonesia, Pikiran Rakyat dan Ripple magazine

Rabu, 28 April 2010

Emo . . .

Komunitas yang satu ini nampak nya tidak begitu akrab dengan komunitas punk . . .
tidak jelas jalan ceritanya kenapa ada masalah antara keduanya . . . .
neh untuk lebih lanjutnya kita pelajarin lebih dalam komunitas underground yang satu ini

A . apa sih EMO itu . . . . ? ?

Emo (pengucapan /ˈiːmoʊ/, singkatan untuk emotional music) adalah gaya musik rock dengan ciri khas musik yang melodius, disertai lirik yang ekspresif dan berisi pengakuan. Pada pertengahan 1980-an terdapat subbudaya hardcore punk di Washington, D.C.. Musik mereka disebut emotional hardcore atau emocore, perintisnya adalah Rites of Spring dan Embrace.[2] Punk gaya baru yang dipelopori Rites of Spring juga disebut emotive hardcore.[3] Sejalan dengan ditirunya gaya bermusik ini oleh grup-grup punk kontemporer Amerika, terjadi pergeseran dan perubahan bunyi musik dan arti, tercampur dengan pop punk dan indie rock, dan berpuncak pada awal tahun 1990-an dengan musik oleh Jawbreaker dan Sunny Day Real Estate. Pada pertengahan 1990-an grup-grup musik emo mulai bermunculan dari Amerika Serikat Tengah Barat dan Amerika Serikat Tengah, dan sejumlah label independen mulai menjadi spesialis emo. Emo mulai populer sebagai genre musik pada awal 2000-an mengikuti kesuksesan Jimmy Eat World dan Dashboard Confessional yang laris rekamannya hingga mendapat piringan platina, dan munculnya subgenre baru dari emo berupa screamo yang lebih agresif. Istilah emo dipakai oleh kritikus musik dan wartawan untuk menyebut musik yang dibawakan berbagai artis, termasuk Fall Out Boy dan My Chemical Romance, serta grup-grup yang unik seperti Coheed and Cambria dan Panic at the Disco.

Selain mengacu kepada musik, emo secara umum sering dipakai untuk menggambarkan hubungan khusus antara penggemar dan artis, dan menjelaskan unsur-unsur yang terkait seperti busana, budaya, dan tingkah laku.



B . bagaimana emo bisa lahir . . . ? ?

Emo muncul dari genre hardcore punk pada awal 1980-an di Washington, D.C. sebagai reaksi meningkatnya kekerasan di komunitas hardcore punk dan rasa ketidaksenangan terhadap Ian MacKaye dari Minor Threat yang mengubah fokus musiknya dari komunitas menjadi kepentingan politik individual. Penggemar Minor Threat bernama Guy Picciotto mendirikan Rites of Spring pada tahun 1984 karena berkeinginan melepaskan diri dari batasan-batasan hardcore yang mengekang, dan menggantinya dengan gitar yang melodius, ritme yang bervariasi, dan lirik yang sangat penuh luapan emosi pribadi. Sebagian dari lirik lagu-lagu Rites of Spring telah menjadi metafora bagi pemusik emo dari generasi berikutnya, termasuk di antaranya tema-tema seperti nostalgia, kepahitan yang romantis, dan putus asa yang puitis. Konser-konser Rites of Spring menjadi arena luapan emosi publik, para penonton sering kali menangis tersedu-sedu. Ian MacKaye berubah menjadi penggemar berat Rites of Spring, membantu rekaman satu-satunya album Rites of Spring, dan bekerja sebagai roadie dalam konser keliling. MacKaye lalu mendirikan band sendiri bernama Embrace yang mengeksplorasi tema-tema serupa mengenai pencarian diri dan pelepasan emosi. Grup-grup musik serupa bermunculan setelah adanya Revolusi Musim Panas 1985 di kalangan hardcore punk Washington, D.C. Gray Matter, Beefeater, Fire Party, Dag Nasty, Lunchmeat, dan Kingface adalah beberapa grup musik yang berperan penting waktu itu.

Asal usul dari istilah emo tidaklah begitu pasti, namun paling tidak sudah dikenal sejak tahun 1985. Menurut Andy Greenwald penulis buku Nothing Feels Good: Punk Rock, Teenagers, and Emo, "Asal usul istilah emo diselubungi misteri [...] tapi pertama kali muncul sebagai kebiasaan umum pada 1985. Kalau Minor Threat dianggap hardcore, maka Rites of Spring dengan fokus yang berbeda, bisa disebut emotional hardcore atau emocore. Michael Azerrad pengarang Our Band Could Be Your Life juga melacak asal usul kata emo: "Gaya bermusik seperti itu segera disebut 'emo-core', istilah yang dibenci oleh semua orang yang terlibat di dalamnya, walaupun istilah dan pendekatan itu berkembang paling sedikit lima belas tahun kemudian, dan melahirkan band-band yang tidak terhitung jumlahnya." MacKaye juga mengenang kembali tahun 1985, dan mengingat ada sebuah artikel di majalah Thrasher yang menyebut Embrace dan grup-grup musik lain di Washington, D.C. sebagai "emo-core". Ketika itu, ia menganggapnya "istilah paling bodoh yang pernah aku dengar seumur hidupku." Teori lain mengatakan istilah emo berasal dari penonton konser Embrace. Mereka meneriakkan kata "emocore" yang dimaksudkan sebagai ejekan bagi Embrace. Penggemar emo mengklaim bahwa MacKaye yang menciptakan istilah emo untuk mengejek dirinya sendiri di majalah, atau istilah tersebut berasal dari ciptaan Rites of Spring. Walapun demikian, Oxford English Dictionary mencatat bahwa istilah emo-core pertama kali digunakan tahun 1992, sementara istilah emo mulai dikenal pada tahun 1993. Kata emo pertama kali muncul di media cetak pada tahun 1995 di majalah New Musical Express.

Perusahaan rekaman spesialis emocore dengan segera bermunculan di sekitar kalangan punk Washington, D.C., dan identik dengan grup-grup musik yang bernaung di bawah label Dischord Records milik MacKaye.[12] Walaupun sebagian besar dari grup-grup tersebut enggan disebut band emo, mereka menerimanya dengan terpaksa. Veteran punk Jenny Toomey mengenang "Orang yang menggunakan [istilah emo] hanyalah orang-orang yang cemburu terhadap begitu besar dan fanatiknya penggemar pada waktu itu. [Rites of Spring] sudah ada sebelum istilah emo tercipta, dan mereka membencinya. Namun terjadilah keanehan, seperti ketika orang-orang mulai menyebut musik mereka 'grunge', Anda juga mulai ikut-ikutan memakai istilah itu, walaupun mulanya Anda membencinya."[16]

Kegemilangan emo di Washington, D.C. hanya bertahan beberapa tahun. Pada 1986, sebagian besar band-band utama, termasuk Rites of Spring, Embrace, Gray Matter, dan Beefeater sudah membubarkan diri.[17] Walaupun demikian, ide dan estetika yang berasal dari mereka dengan cepat menyebar ke seluruh Amerika Serikat lewat majalah penggemar (zine), rekaman piringan hitam, dan kabar burung.[18] Menurut Greenwald, kalangan emo di Washington, D.C. meletakkan fondasi bagi inkarnasi grup-grup emo generasi berikutnya:

Apa yang terjadi di Washington, D.C. pada pertengahan delapan puluhan, pergeseran kemarahan menjadi aksi, dari kemarahan terpendam menjadi ketidakpastian internal, dari massa yang terindividualisasikan menjadi massa yang individual, semuanya dalam beberapa hal merupakan studi kasus bagi transformasi dunia punk nasional untuk dua dekade berikutnya. Penggambaran ide dan situasi, kekuatan musik, dan cara orang bereaksi terhadaobtam dab cara band-band menjadi jenuh dan bukan memudar, semuanya berawal dari beberapa pertunjukan pertama Rites of Spring. Fondasi emo telah diletakkan, namun secara tidak sengaja, oleh lima puluh orang atau lebih di ibu kota negara. Dan dalam beberapa hal, emo tidak akan pernah sebaik dulu dan pastinya tidak akan pernah murni lagi. Pastinya, dunia emo di Washington menerima emocore secara konsensus sebagai suatu genre .

HC (HardCore)

A . hardcore . . . ? ?

sudah sering dengar kan ? nah kali ini kita akan mencari tahu lebih dalam tentang komunitas yang satu ini . . . . .

Hardcore punk (terkadang disebut Hardcore saja) merupakan salah satu subgenre dari punk rock yang berasal dari Amerika Utara dan UK diakhir tahun 1970-an. Sound baru ini yang merupakan ciri khas musiknya secara umum yaitu: suara gitar yang lebih tebal, berat dan cepat dari musik punk rock awal.[1] Tipikal lagu biasanya sangat pendek, cepat dan keras, selalu membawakan lagu tentang politik, kebebasan berpendapat, kekerasan, pengasingan diri dari sosial, straight edge, perang dan tentang sub-kultur hardcore itu sendiri



* tentang harcore di indonesia

Musik Hardcore sudah eksis di Indonesia pada tahun akhir 1980-an. Dengan fenomena yang ada menyebabkan sebagian dari punker mulai melahirkan scene-scene hardcore punk. Sehingga musik hardcore di Indonesia sangat kental dengan warna punk.

Dikarenakan masih sangat sedikitnya scene hardcore maka scene terbagi menjadi dua kaum, yaitu kaum individu yang lebih suka menikmati musik hardcore dengan sosialisasi yang secukupnya dan kaum yang sangat suka bersosialisasi (membaur dengan komunitas punk). Hal ini terjadi sampai sekitar pertengahan tahun 1990-an. Tahun 90-an bisa dibilang tahun musik hardcore di Indonesia dan puncaknya pada akhir tahun 1990 ditandai dengan mulainya pertunjukan-pertunjukan di berbagai tempat menampilkan 100% band hardcore (yang sebelumnya selalu mencampur dengan band punk) dan kemudian musik hardcore mulai membaur dengan melodicore.

Dengan semakin banyaknya band hardcore bersamaan pula munculnya records D.I.Y yang menyalurkan kreatifitas band seperti pinball records dan ffgrecords. Di Indonesia kota Jakarta adalah kota yang memiliki banyak band hardcore, untuk di kota lain umumnya hardcore dibawa dan berkembang dari individu anak Jakarta yang kuliah di luar kota ataupun bekerja. Band Hardcore Jakarta antara lain adalah Anti Septic, Triple X, Straight Answer, Dirty Edge, Popcorn, Sugesti X, Secret Agent. Depok juga memiliki DC crew: Thinking Straight dan juga band-band Depok lainnya yang mayoritas mengusung oldschool hardcore punk serta di daerah Menteng Jakarta Pusat yang dikenal dengan Taman Suropati banyak band-band pengusung hardcore punk seperti Speed Kill, Sing It, The Borstal, Snacky, Majesty, Naughty Sex Party, Headline dan masih banyak lagi.

Setelah era oldschool, hardcore amerika, hardcore oldscholl eropa ke newschool maka dimulailah hardcore yang didominasi dengan musik lebih kental musik metalnya seperti Jumbo Jet bahkan emo, hingga saat ini (tahun 2000-an).

Skinhead . . .

A . komunitas Skin di Indonesia

Sebagai salah satu subcultures yang semakin tumbuh berkembang di berbagai belahan dunia, Skinhead telah menjadi bagian dari budaya sebuah bangsa yang kuat, tak terkecuali di IndOi!nesia. Rentang perbedaan jarak dan waktu telah menjadi jurang pemisah antar komunitas kaum Skinhead yang telah tumbuh dan berdiri tegak di seluruh kepulauan di IndOi!nesia. Untuk itu, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, Skinheadindonesia.com berupaya hadir untuk bisa merangkul dan menjabat erat para kaum Skinhead di seluruh pelosok negeri dari Sabang sampai Merauke tanpa membedakan suku, agama dan ras.


Situs Skinhead Indonesia dibangun untuk bisa menjadi “rumah” bagi para komunitas Skinhead di Indonesia dan menjadi wadah dalam menuangkan ide, pikiran maupun kreativitas berkarya seni. Dengan mengenyampingkan paham dan ideologi yang dianut, Skinheadindonesia.com diharapkan bisa menjadi jembatan yang mempertemukan para komunitas kaum Skinhead di seluruh pelosok nusantara. Dengan diciptakannya situs ini, tak menutup pintu bagi para komunitas subcultures yang lain untuk ikut bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Skinhead Indonesia.

punk ???


A . apaan sih punk itu . . . ? ? ?

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

B . punk di indonesia sendiri . . . . ? ? ?

Pada awal kelahirannya, punk memang teridentifikasi sebagai pemberontakan. Pemberontakan Punk dinyatakan dengan pemberontakan semiotik yang diaplikasikan pada fesyen dan musik. Namun pemberontakan tersebut pula yang dijual oleh industri dan dijadikan sebagai sumber profit yang dapat dieksploitasi. Hal ini ditandai dengan bergabungnya Sex Pistols, salah satu band Punk generasi tahun 70an, dengan industri musik mainstream EMI. Kemudian pasar industri musik dipenuhi dengan band-band kloning mereka yang merubah subkultur punk menjadi sesuatu yang mapan. Pemberontakan dapat dibeli. Akhir dari era Sex Pistols ini, merupakan titik balik sejarah perkembangan Punk.
Ketika Punk menjadi komoditas pasar yang dapat dieksploitasi, individu yang terlibat dalam sub kultur ini mengasingkan diri kembali. Sehingga Punk berpindah ke bawah tanah, tetap eksis tetapi tidak terliput mainstream. Justru setelah era Sex Pistols tersebut, Punk berkembang dengan pesat melalui jaringan pertemanan yang independen. Perkembangan Punk setelah tahun 70-an ditandai dengan berpindahnya aktivitas Punk dari Inggris ke Amerika. Disanalah scene-scene Punk menjamur. Pemberontakan semiotik telah mengalami banyak perubahan meskipun tidak total. Pada generasi ini, akan sulit untuk melihat Punk semata mata dengan penandaan pencitraan atau imaji belaka (baca: fesyen). Diinspirasi oleh tulisan-tulisan Situasionis, pemicu pemberontakan May 1968 di Paris, Punk seolah-olah merubah strategi dari semata-mata pemberontakan semiotik menjadi sebuah gerakan gaya hidup tandingan.
Punk generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktvitas independen yang lebih politis daripada generasi Sex Pistols seperti isu feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, independensi, rasisme, isu anti-perang dan lain-lain. Semua ini merupakan isu komunal yang beredar diantara komunitas Punk sendiri dalam rangka melawan informasi dari budaya mainstream.
Dengan peranan media mainstream yang meliput Punk generasi Sex Pistols, banyak remaja yang terjebak miskonsepsi tentang ideologi pemberontakan ala Punk. Banyak remaja yang merasa cocok dengan image pemberontakan lalu mengadaptasi fashion dan musik Punk. Sebagian dari mereka hanya ingin tampil beda di masyarakat dengan pemahaman yang setengah-setengah mengenai Punk.
Dengan pemahaman yang setengah-setengah ini, remaja mengartikan Punk sebagai hidup bebas tanpa aturan. Akibatnya, banyak dari mereka yang melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat. Salah satu contoh kecilnya adalah mabuk-mabukan di muka
umum secara bergerombol, meminta uang secara paksa kepada masyarakat, dan lain sebagainya. Masyarakat yang awam mengenai Punk menarik kesimpulan bahwa Punk adalah segerombolan remaja yang berperilaku seperti itu. Didukung dengan hingar bingar musik Punk dan lirik yang berisi kecaman-kecaman pemberontakan mengakibatkan miringnya persepsi masyrakat mengenai Punk. Bahkan ada juga masyarakat yang menganggap Punk hanya sekedar aliran musik keras belaka.
Masuknya Punk ke Indonesia tidak lepas dari pemberitaan media mainstream. Di Indonesia, kultur Punk dikenal pertamakali sebagai bentuk musikal dan fashion statement. Kultur Punk telah hadir tanpa substansi sejak awal. Punk tidak hadir sebagai respon keterasingan dalam masyarakat modern, melainkan dari sebuah kerinduan akan sebuah bentuk representasi baru saat tak ada hal lama yang dapat merepresentasikan diri remaja lagi. Maka tidak heran, apabila hal-hal yang substansial baru muncul bertahun tahun setelah Punk dikenal secara musikal dan fashion statement. Ini adalah sebuah keterlanjuran.
Di Bandung, secara musikal Punk telah dikenal sejak tahun 70an akhir dimana hal ini dibahas dalam majalah remaja Aktuil. Punk juga dibahas dalam majalah Hai pada tahun 80an. Kemudian gaya berpakaiannya juga diadopsi oleh beberapa preman jalannan. Baru di penghujung tahun 80an bermunculan kelompok-kelompok Punk dari kelas menengah karena pada saat itu hanya yang memiliki finansial tinggilah yang dapat mengakses produk dan informasi kultur ini. Jadi pada kesimpulannya, kultur Punk memang hadir di Indonesia tanpa hal-hal yang substansial, ia lahir sebagaimana produk postmodern lainnya, lahir tanpa esensi. Ada banyak hal yang mendorong terjadinya hal-hal ini antara lain karena gap bahasa, gap ekonomi, gap krisis masa muda.
Meskipun akhirnya substansi Punk hadir di Indonesia pada pertengahan tahun 90an melalui akses internet, tak berbeda dengan yang terjadi di negara lain, di Indonesia Punk dianggap sebagai segerombolan remaja biang onar atau sekedar aliran musik keras yang vokalisnya meracau tak jelas. Padahal pada pertengahan tahun 90an, komunita Punk di Indonesia merupakan komunitas Punk dengan jumlah populasi terbesar di dunia.
Penganut kultur punk (Punks) di Indonesia mulai mengadopsi substansi Punk yang termasuk di dalamnya ideologi, etika DIY (Do It Yourself), pandangan politis, dan lain sebagainya. Salah satunya adalah gaya hidup positif Straigh Edge yang menolak konsumsi alkohol, rokok, obat-obatan terlarang, dan perilaku seks bebas.